Tanpa Harap akan Jawaban (#2)

“Bagiku, hidup adalah seperti sastra serius. Yang tak selalu menghadirkan konflik intens dan cerita seru yang sederhana.” ucapannya terputus karena suara bising kendaraan. Aku kembali memintanya untuk mengulang kata-katanya. Ia tersenyum kecil, “Ya, seperti itu. Hidup ini mengandung banyak fragmen-fragmen yang kosong, ganjil dan tragis. Terkadang kita-lah yang harus membuat tafsirannya sendiri.” tegasnya.    Aku … Continue reading Tanpa Harap akan Jawaban (#2)

Tanpa Harap akan Jawaban (#1)

“Jika hidup adalah sebuah karya sastra,” ucapnya, “maka kita sedang mendamba epilog.”  Seiring sayup-sayup Chasing Cars dari Snow Patrol yang dinyanyikan oleh seorang musisi jalanan di sudut sebuah kota yang menua, seketika juga terlintas kata-kata itu. Kata-kata yang memang sudah bertahan melalui waktu yang terus bergerak, mungkin 2 tahun itu sangatlah cepat. Namun, seperti biasanya, … Continue reading Tanpa Harap akan Jawaban (#1)

Membunuh Hitler Tanpa Alasan

Karya : Etgar Keret “TAMBAH lagi pepperoninya?” usul Ludwig.  “Terima kasih, aku sudah kenyang.” Kutepuk-tepuk perutku. “Kenyang,” seolah terpesona, Ludwig mengulang kata itu, “Lama sekali aku baru dengar kata itu lagi.” Dia menatap tajam-tajam pada pengaduk pepperoni di meja yang terbuka seolah-olah tengah menatap seorang kawan lama yang mengingatkan dirinya pada kenangan indah masa kanak-kanak. … Continue reading Membunuh Hitler Tanpa Alasan

JANGGAL : Bagian I

“Biarkan dia tetap jadi misteri” ujarnya selepas gelap jatuh, “Apa yang kamu harapkan? Cinta? Aku lebih tertarik dengan permainan papan.” belum sempat aku terbata, ia kembali berkata, “Kamu tidak bermain cinta, kamu bermain ego, kamu terlalu banyak menyaksikan happy endings. Cobalah sesekali main ke tempatku, di mana cerita berakhir dengan suara ledakan dan lubang di … Continue reading JANGGAL : Bagian I

Berujung Luka…

Kemarin malam, seperti biasa, aku berkumpul dengan beberapa teman. Tidak jauh dari tempat kostku. Juga seperti biasa, kami mengobrol dari mulai hal-hal tidak penting hingga curahan hati masing-masing. Wajarlah ya. Waktu terasa begitu cepat saat berkumpul bersama teman, selalu seperti itu.  Tapi, cerita salah satu temanku yang dia sebut "curhat" akhirnya membuatku mengurungkan niat untuk … Continue reading Berujung Luka…

SUICIDE : Ironi dan Stigma.

"Everything...affects everything" Ada satu waktu, ketika seorang anak muda bernama Tom menjadi objek perbincangan orang sekitarnya. Mereka berpikir bahwa Tom adalah seorang pecundang yang egois. Mereka mengatakan itu bukan tanpa alasan — Tom adalah pemuda pemurung — dia tak begitu suka berbaur dengan orang-orang sekitar, dia tak acuh dengan semua yang orang lain katakan tentangnya, dia … Continue reading SUICIDE : Ironi dan Stigma.

Aku Lelah, Stigma!

Sore ini tampak sama seperti sore-sore sebelumnya. Hujan selalu membasahi daerah di tempat tinggalku, hampir tiap hari. Rasanya, aku telah berkawan dengan semua tetesan air itu, tidak seperti sebagian besar orang yang mengeluh akan kehadirannya.  Selepas pagi hingga siang tadi hujan turun, cuaca berbalik menjadi cerah. Walau sedikit telat untuk memulai hari, burung-burung tetap bernyanyi … Continue reading Aku Lelah, Stigma!

NOTHING EVER HAPPENS

Suatu hari di bulan Desember yang selalu terasa lama, kota Denver yang membeku dengan -9° di sebuah acara keluarga yang membuat suasana sedikit hangat — timbul sejuta pertanyaan dalam pikiran anggota keluarga lainnya — itu hadir dari kesimpulan yang coba dijelaskan oleh seorang yang menolak segala pemikiran keluarganya, segala bentuk kehidupan. Orang itu adalah Jude, … Continue reading NOTHING EVER HAPPENS