Kehidupan Macam Apa Ini?

Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan kali ini, jadi aku menulis secara acak, lagi dan lagi. Namun aku harap tulisan ini tidak memberi pengaruh buruk kepada siapa-siapa yang membacanya, karena seorang teman beberapa waktu lalu berujar bahwa tulisan-tulisanku membuat depresinya meningkat. Mohon maaf, aku hanya ingin menuangkan isi otak yang membeku ini dengan kata-kata. Aku sadar aku tidak begitu pandai menulis, oleh karena itu mohon maaf jika dengan membaca tulisan ini hanya akan membuang waktumu.

Belum lama ini aku membaca berita tentang dua orang yang tewas dalam kereta di Portland. Mereka dibunuh karena membela remaja muslim. Pelaku pembunuhan sudah tertangkap, namun pihak kepolisian menolak membagikan detail dari sejarah kriminal pelaku. Beberapa hari lalu juga aku mengetahui cerita dari seorang kawan, bahwa ia pernah mendapat pelecehan seksual dan tak ada yang membelanya. Justru umpatan yang ia dapat, hanya karena ia seorang lelaki. Warga yang hingga kini masih mengungsi akibat banjir bandang di Garut keracunan makanan. Banyak orang di Afrika hingga Papua (dan tempat lain, tentunya) masih bertarung dengan kelaparan. Anak-anak dibawah umur yang mengamen ditangkap petugas dan dibawa ke kantor untuk di data, namun seorang pengamen yang aku kenal pernah bercerita bahwa setelah ia tertangkap, di sana ia hanya di suruh untuk mencuci mobil dan menyemir sepatu petugas, lalu di biarkan kembali ke jalanan. 

Aku mengenal seseorang yang pernah mengalami kekerasan seksual di malam ketika ia hendak pulang, hingga kini ia merasa takut untuk keluar malam sendiri dan ditambah dengan sebagian orang yang ia kenal juga melarangnya untuk keluar malam. Ada bayi-bayi yang dibuang beberapa saat setelah ia dilahirkan, dibiarkan kedinginan dalam sebuah kardus dengan kain-kain seadanya. Dan ketika aku menulis ini di rumah yang hangat, di luar sana entah di mana, ada orang-orang yang kedinginan tanpa tempat tinggal. Jumlah pengungsi dari Timur Tengah dan sekitarnya yang muak dengan peperangan meledak, mereka luntang-lantung berharap kehidupan yang lebih baik, sedikit dari mereka berhasil, sebagian yang lain tetap hidup dalam ketakutan hingga mati terdampar di tepi pantai. Pembunuh dan pemerkosa hidup ditengah-tengah komunitas kita. Orang-orang tidak peduli sebelum kejadian yang sama terjadi kepada mereka. Kita terbangun dengan miliaran tragedi setiap harinya. Perubahan ada di tangan kita?

Seorang teman dari Jerman pernah berkata, satu-satunya cara untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik adalah dengan menembakan pistol ke kepala. Di dalam dunia di mana lelaki selalu merasa lebih tangguh dan memukul anak dan istrinya. Di dalam dunia di mana seorang ibu membunuh anaknya. Di dalam dunia di mana seorang anak memerkosa ibunya. Di dalam dunia di mana aparat membunuh orang-orang yang muak dengan sistem. Di dalam dunia di mana investor adalah tuhan yang dirindukan. Di dalam dunia di mana orang-orang mati dan membunuh atas nama agamanya.  Di dalam dunia dengan manusia-manusia yang selalu mengeluh dengan fisik dan apa yang ia miliki, sementara di dunia yang sama juga ada orang-orang yang merasa iri hingga akhirnya melakukan apa pun demi meningkatkan status sosialnya. 

Kita mendamba suka-cita dan menggali dunia, membakar dan merusaknya. Tanah yang digunakan orang-orang desa untuk bertani akan digusur dan dibangun pabrik, jalan raya atau gedung-gedung lainnya. Rumah susun untuk para korban penggusuran lebih mirip penjara. Seorang pecandu narkoba mendapat diskriminasi hukum dan stigma masyarakat. Seorang pekerja seks dicap sebagai pembawa bencana. Orang-orang tidak peduli dan menganggap orang dengan mental illness itu terlalu dramatik sebelum akhirnya menyesal karena orang tersebut mengakhiri hidupnya sendiri. Orang tua menyambut anak-anaknya dengan senyuman setelah otak mereka dicuci di sekolah. Binatang-binatang terpaksa dibunuh karena memasuki pemukiman warga untuk mencari makanan akibat habitatnya sudah rusak. Kelompok pemberontak disusupi penindas yang sama. Penguasa memberi pesan agar kita taat membayar pajak, sementara hanya wilayah favorit pemegang modal yang maju. Kita percaya kepada sebagian media yang ingin mengangkat isu-isu kemanusiaan, namun yang mereka lakukan hanyalah beronani dengan pemiliknya yang ingin menjadi calon pemimpin. 

Tanah, air hingga udara kini harus dibeli. Kita tak boleh memetik buah dari pohon yang berada dalam wilayah rumah tetangga, sementara pohon-pohon di hutan habis demi perkebunan sawit. Kita menyambut perayaan-perayaan besar seperti kejuaraan olahraga dengan senang hati, namun orang-orang yang membangun stadion-stadion dan tempat mewah untuk istirahat para atlet tersebut tetap dibayar di bawah rata-rata. Kita merasa bahwa solidaritas itu penting dan kemudian menjalin koneksi seluas-luasnya, sementara terkadang kita tak tahu bahwa ada tetangga kita yang di PHK. Orang-orang diumpat di sosial media hingga putus asa dan bunuh diri. Makanan hingga minuman mengandung racun berbahaya. Koruptor masih bisa liburan ke luar negeri, pencuri semangka dihakimi massa. Orang-orang pintar akhirnya berhasil membodohi kita untuk percaya pada pemilihan umum. Rumah-rumah ibadah dibakar hanya karena dianggap merusak kesucian sebuah wilayah. Orang kaya mengkritik orang miskin, itu disebut motivasi. Orang miskin mengkritik orang kaya dan itu disebut kecemburuan kelas. Kita menolak kekerasan terhadap binatang, namun sebuah tradisi lokal tempat kelahiran yang mencabuk dan memukul binatang-binatang dengan balok itu dimaklumi. Seksisme dan rasisme diwajarkan jika dalam awal itu dimaksud untuk sebuah guyonan. Bukanlah sebuah kekerasan terhadap anak kecil jika itu sudah menjadi tradisi yang sakral? Petani kebun kopi dibayar murah untuk segelas kopi mahal di cafe terkenal. Kita bertarung tentang siapa yang menciptakan dunia namun tak bertanya siapa yang merusaknya. 

Dan waktu terus berjalan, apa yang bisa kita lakukan?  Kita bukanlah diri kita lagi. Dunia sudah lama hilang. Lalu, kehidupan macam apa ini? Ketidaktahuan ataukah apatis yang menghancurkan masyarakat ini? Dua-duanya, dan kitalah hasilnya. Kita merusak dunia, kita merusak diri kita sendiri. Kita hanyalah kotoran kecil yang tak dibutuhkan planet ini. Kita terus ber-evolusi, be-revolusi, dan melahirkan kenyataan yang sama bahkan yang lebih buruk di kemudian hari. Mereka berkata, pesimisme akan menenggelamkan kita, namun, mengapa orang-orang optimis mati bahkan sebelum cita-citanya tercapai? Sebagian dari kita takut akan kematian, namun juga tidak ingin menjadi tua. Kita tetap dan akan terus hidup dalam pertanyaan, dalam kebingungan. Mungkin kita harus terus mencari meski kita sudah tahu muaranya adalah kekosongan dan pencarian-pencarian yang baru? Bagaimana jika yang dikatakan seorang teman dari Jerman itu benar? Bagaimana jika ia salah? Bagaimana jika kitalah yang salah? What a wonderful world, Armstrong? Haha, what a cruel world we live in.

Dan, waktu terus berjalan.

Advertisements

One thought on “Kehidupan Macam Apa Ini?

  1. Pingback: #BanalitasHarian: pascafinal – Amorfati!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s