Tanpa Harap akan Jawaban (#2)

“Bagiku, hidup adalah seperti sastra serius. Yang tak selalu menghadirkan konflik intens dan cerita seru yang sederhana.” ucapannya terputus karena suara bising kendaraan. Aku kembali memintanya untuk mengulang kata-katanya. Ia tersenyum kecil, “Ya, seperti itu. Hidup ini mengandung banyak fragmen-fragmen yang kosong, ganjil dan tragis. Terkadang kita-lah yang harus membuat tafsirannya sendiri.” tegasnya.

   Aku terbaring lesu di sebuah ruangan kecil yang aku sewa malam ini, satu demi satu ucapan yang pernah ia ucapkan kembali melayang dan singgah dalam pikiran. Aku dan dia bukanlah penyair kisah roman yang berakhir dalam nestapa sebelum menyelesaikan sebuah karya sastra, sementara rindu sudah menagih di jemput di persimpangan abstraksi yang tak pernah bisa di pahami. Bahkan kami hanya berjumpa untuk beberapa kali saja, ini aneh, bukan?

“Mungkin sekali dalam hidup, kita tak perlu selalu melahap kata dan menelan bahasa.” ucapnya.

“Sial, itu akan sangat sulit.” jawabku.

“Ya, memang sulit. Kita selalu mencari makna pada apa-apa yang kita rasa berharga. Sementara yang mencuat pada akhir halaman hanyalah ruang kosong untuk menulis tanggal.”

   Kata-kata yang ia ucap menjelma seperti baris-baris puisi singkat yang membekas, tajam dan menggores laiknya sebuah aforisme, namun dibacakan dengan tersendu oleh seorang yang tak lagi percaya nasihat dan kitab. Aku tak ingin selalu mengingat itu semua, karena seseorang dalam film tua yang aku tonton beberapa tahun lalu pernah berujar – ketika kamu bergantung kepada masa lalu, maka kamu mati sedikit demi sedikit setiap harinya – namun sialnya, aku tak selalu mampu mengendalikan otak untuk menolak memori.

Ah, aku muak! Aku memutuskan untuk pergi keluar, hanya untuk mencari tempat duduk, menenangkan pikiran. Lampu di ujung jalan itu masih berkedip di sekitar tepinya, jalan-jalan masih sedikit basah. Saat itu aku tak ingin lagi ambil pusing, namun ada saja penyesalan dan rasa malu karena telah berbagi banyak hal tentang diri sendiri dengan seseorang yang hampir tidak aku kenal dengan baik, seseorang yang kadang-kadang aku kirimi Pesan Singkat, dan terkadang berbagi beberapa gelas beer setelah gelap jatuh. Aneh karena beberapa hal bisa dengan cepat berubah, hanya dalam satu hari. Tersaruk aku dalam mimpi-mimpi yang retak.

   Dan dalam saat-saat silam kali ini, hanya beberapa jam sebelum matahari kembali muncul untuk menyambut hari-hari yang terkutuk, aku kembali mengeja nostalgia dengan pejaman mata. Sial, sungguh-sungguh sial aku ini. Mungkin ini berat untuk mengakui bahwa aku sangat ingin menjumpainya kembali, kemudian hanya memandangi matanya tanpa ekspresi. Namun bahkan aku tak tahu lagi ia ada di mana sekarang. Aku sangat ingin berbicara dengannya, membicarakan hal-hal yang terlupakan, hal-hal yang tak diacuhkan.

Namun, ia hanya berbicara ketika ia mau berbicara, yang artinya adalah aku tak dapat selalu berharap menemukan jawaban atau balasan dari ucapan dan pertanyaanku. Sejatinya ia tak terlalu suka berkata-kata, namun ia mampu membuat apa yang ia ucap menjadi sesuatu yang selalu teringat, dalam hening dan realitas yang terluka, kata-katanya menenangkan seperti sayup-sayup violin di Budapest yang senyap dan membeku.

   Aku ingin mengucapkan kata, aku ingin menulis sesuatu, namun aku tak tahu. Mungkin apa yang ia ucapkan malam itu benar – bahwa tak semua hal harus menjadi kata-kata. Dan aku? Aku tak tahu lagi akan kemana setelah terang datang menyergap nanti, mungkin ke utara, atau mungkin ke selatan. Tanpa sebuah tujuan pasti, aku hanya ingin menemukan ingatan-ingatan lain di setiap perjalanannya.

Mungkin perjalananku yang tiada henti ini akan menemukan muaranya, atau seperti yang ia sebut, sebuah epilog. Mungkin juga terhenti, entah karena alzheimer atau lelah menahan anomie, atau terlelap dan tak kembali terjaga. Sudah kubilang, entah. Namun satu yang aku tahu, memang benar, hidup ini adalah kumpulan fragmen-fragmen kosong, yang harus kita tafsirkan sendiri meski halaman di sana pun berakhir dengan kekosongan. Setidaknya untuk berani mencoba adalah sesuatu yang patut dirayakan, bukan?

   Dan ia, aku tidak tahu apa aku dapat menjumpainya lagi atau tidak. Namun ia dan kata-kata itu, akan selalu hadir dalam ingatan dan langkah gemetar yang terus menolak menyerah pada sinisme dan komedi tragis kehidupan. Dan ia, yang muram dan mampu membuat kata-kata menjadi melankolia, ternyata lebih senang diam. Suatu saat, mungkin aku tak akan mengingat dan mencatatnya dalam kata-kata, aku akan mengingatnya justru karea ia diam. Oh, Carpe Diem, aku membutuhkanmu saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s