Tanpa Harap akan Jawaban (#1)

“Jika hidup adalah sebuah karya sastra,” ucapnya, “maka kita sedang mendamba epilog.” 

Seiring sayup-sayup Chasing Cars dari Snow Patrol yang dinyanyikan oleh seorang musisi jalanan di sudut sebuah kota yang menua, seketika juga terlintas kata-kata itu. Kata-kata yang memang sudah bertahan melalui waktu yang terus bergerak, mungkin 2 tahun itu sangatlah cepat. Namun, seperti biasanya, nostalgia terkadang menjebak tanpa bertanya. Kata-kata itu seolah menolak untuk menyilam, ia terus dan tetap ada dalam jiwa yang berlubang dan mencuat tiba-tiba kala sunyi menjadi satu-satunya suara.

Hari ini sedikit memilukan, aku berjalan entah kemana, tanpa rencana. Sendiri, hanya sendiri. Langkah demi langkah ini kian menguatkan ingatan akan kata-kata itu. Aku coba mengalihkannya dengan berpikir tentang betapa tengiknya dunia, Slovenia yang terluka, atau mengutuk sekaligus menikmati Sartre dengan Nausea-nya. Itu bekerja untuk beberapa saat. 

Dan, kata-kata itu kembali jatuh seiring rintik-rintik hujan yang memaksaku untuk berteduh. Aku tertunduk di sebuah halte, ada seorang lelaki tua di pojok kursi yang mulai berkarat ini. Ia menggenggam tanggannya sendiri, ia berbicara tanpa bersuara dengan bibirnya yang terus bergerak. Namun tak lama, sedikit gumaman terdengar dari si lelaki tua itu, aku menoleh, ia seperti berdoa dengan Latin. Temperatur udara yang menurun ini tak lagi terasa. Aku hanya duduk tanpa sedikit pun bersuara. Aku kembali menoleh ke arah si lelaki tua, ia masih dengan doa-doanya. Rasanya halte ini sudah menjadi gereja, tempat yang hangat dan tenang, namun menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, bukan?

Hujan akhirnya reda, jalanan ini sepi. Pukul 02.30, yang ada hanya gelap dan tangisan seekor gagak yang mengepakan sayap basahnya tepat di atas bangunan tua di sana. Tak ada lagi yang bersliweran di trotoar, kecuali plastik yang tertiup angin dan si lelaki tua yang berjalan dengan perlahan ke utara. Aku tak tahu lagi akan melangkah kemana, mungkin motel adalah satu-satunya tempat di mana keresahan ini bisa lenyap sesaat rebah di ranjang. 

Perjalanan selalu melahirkan ingatan-ingatan subtil dari cerita-cerita yang muram. Kata-kata itu tetap ada, seperti menggoreskan dirinya sendiri di otak yang setengah membeku karena narkotik kali ini. Angin-angin yang menyapa kulit, lengkungan langit yang kosong, rambut yang sedikit basah, menjadi bekal untuk perjalanan selanjutnya. Sebuah perjalanan untuk menjauhi apa-apa yang dipaksakan, perjalanan untuk menerima dunia dan malam-malam yang gegas.

Dan pagi akan datang kembali, ingatan yang tercecer sepanjang jalan akan menagih untuk di pungut. Bersama distopia yang berdiam di dalam kepala, juga kata-kata itu, yang menjadi jembatan untuk menembus kota-kota dan omong kosongnya, untuk perjalan ke sebuah epilog yang entah kapan dan di mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s