Zapatista dan FC Internazionale

Semua penggemar sepak bola, bahkan mungkin mereka yang tidak menggemari olahraga tersebut, akan mengetahui FC Internazionale Milan. Namun mungkin, mungkin saja, tidak semua orang mengetahui tentang  Zapatista, juga Inter Milan yang ternyata pernah melakukan “kerjasama” dengan mereka. 

Sejarah singkat Zapatista

Zapata, adalah nama seorang anak pemilik perkebunan kecil di Meksiko. Ia dan keluarganya di kenal masyarakat luas berkat perjuangan mereka melawan kelompok konservative di Meksiko dan bangsa Perancis. Kesehariannya, Emiliano Zapata, biasa menunggangi kuda dengan gaya a la cowboy. Penampilan ia pun kemudian di ikuti oleh seluruh jendral-jendral perang Zapatista.

Pada tahun 1917, akibat dari banyaknya tentara-tentara yang mati dan para petani yang berhenti bergerak ketika mereka sudah mendapatkan hak kepemilikan atas lahan pertanian di desa, cukup mempengaruhi perjuangan Zapata, terbukti dengan terus merosotnya jumlah anggota mereka. 

Pada 1 Januari 1994, akhirnya gerakan Zapatista kembali muncul dengan amarah dan rasa muak yang mendorong mereka untuk melawan pemerintahan Meksiko yang mempersulit akses mereka terhadap tanah, tradisi, dan kehidupan minoritas suku indian itu sendiri, juga perlawanan terhadap globalisasi neoliberal yang muncul bersamaan dengan perjanjian NAFTA (North American Free Trade Agreement) yang secara simbolik ditandatangani oleh Presiden Amerika Serikat George Bush, Perdana Menteri Kanada Bryan Mulroney, dan Presiden Meksiko Carlos Salinas.

Menggunakan nama EZLN (Ejército Zapatista de Liberación Nacional), mereka menyerbu San Cristobal de Las Casas untuk melakukan pemberontakan, dan mengumumkannya ke berbagai kantor berita di dunia. Dengan muka yang tertutup oleh balaclava dan penyerbuan yang tak pernah diduga sebelumnya, berhasil mengegerkan masyarakat luas dan media-media. Tentu, mereka adalah Zapatista, sekumpulan masyarakat adat yang keluar dari hutan Lacondon, Chiapas.

Koneksi Dengan Inter Milan

Pada medio 2005, Inter Milan mengegerkan media-media di Italia berkat “kerjasama” mereka dengan Zapatista. Bagaimana bisa sebuah klub yang dikuasai Moratti si baron minyak tersebut menjalin koneksi dengan gerakan pemberontakan dari Chiapas? 

Adalah Javier Zanetti, seorang bek kanan sekaligus legenda Inter Milan yang mengaku mendorong Inter Milan untuk mendukung gerakan Zapatista lewat otobiografi yang ia tulis. “Solidaritas itu tak mengenal warna, agama mau pun ideologi politik. Mereka berjuang untuk membuat budaya mereka diakui. Apa yang mereka lakukan adalah untuk mempertahankan identitas mereka sendiri,” tulisnya.

Sama halnya dengan Zapatista yang lahir dari rasa muak terhadap penindasan, Zanetti marah ketika mengetahui kabar dari koran bahwa markas Zapatista diserbu tentara Meksiko, pada April 2005. Tak lama setelah mengetahui kabar tersebut, pemain berjuluk El Pupi itu meminta istrinya, Paula, agar mengirimkan wesel sebesar 2.500 Euro untuk membantu rehabilitasi Villa Zinacantán yang hancur. Langkah yang diambil Zanetti juga membuat rekan-rekannya seperti Esteban Cambiasso, Cristian González dan Julio Cruz memberikan dukungan moral terhadap Zapatista.

Kabar tersebut pun segera diendus oleh Bruno Bartolazzi, seorang petinggi Inter. Dan disusul oleh Moratti yang melayangkan panggilan kepada Zanetti, tepat setelah Serie A musim 2004-2005 berakhir. Yang terjadi selanjutnya cukup tak disangka, Moratti mengaku bahwa ia memiliki hasrat yang sama dengan Zanetti – siklus yang biasa terjadi – anak buah yang berusaha, namun tetap bos yang mendapat reputasi baik.

Kabarnya apa yang ada di dalam benak Zanetti berbeda dengan yang ada di pikiran Moratti. Namun Zanetti tidak terlalu mengindahkan hal tersebut. Juni 2005, rombongan Bartolazzi dan Zanetti yang ditemani istri masing-masing akhirnya pergi ke Meksiko. Uang sebesar 5.000 pound, sebuah ambulan, dan jersey asli Zanetti menandai berawalnya kerjasama antara Inter Milan dan Zapatista. Tak sampai di situ, kubu Nerazzurri juga memberi plakat yang ditandatangani Moratti, serta paket bola hingga jersey.

Kami membaca serangan itu dari koran-koran Meksiko. Bantuan ini tak seberapa, yang lebih penting adalah atensi kami kepada kalian semua. Intinya, Inter tak hanya bermain di PlayStations atau komputer,” tutur Bartolazzi dalam pesan untuk Subcomandante Marcos. “Kami telah katakan kepada mereka, masyarakat di Eropa, dan belahan dunia lainnya agar mendukung demokrasi dan Zapatista. Seperti di sepak bola, sering kali yang kecil mampu mengalahkan yang besar,” lanjutnya.

Saudara-saudara Italiaku, semoga kalian mencapai sukses besar dalam kampanye olahraga seperti ini,” balas Marcos dalam sebuah surat yang dibacakan oleh utusan EZLN.

Kasak-kusuk Inter dan Zapatista ini sempat meresahkan PM Silvio Berlusconi yang juga pemilik AC Milan. Kabar ini pun membuat pers di Italia merasa kecolongan setelah The Christian Science Monitor memuat isi surat Moratti-Marcos yang bocor di artikel “It Will All Be Made Clear in the Next Zapatista Memo” pada 2 Agustus 2005, dan ujung-ujungnya mengupas bahwa di perut bumi Chiapas ternyata kaya dengan minyak. Oops, apakah kabar tersebut hanyalah akal-akalan pers Italia atau memang benar Moratti memiliki tujuan tertentu? Entahlah.

Siapakah Sesungguhnya Marcos?

Marcos adalah seorang gay di San Fransisco, berkulit hitam di Afrika Selatan, seorang Asia di Eropa, seorang anarkis di Spanyol, seorang Palestina di Israel… seorang pencinta damai di Bosnia, seorang pemogok di serikat Buruh, seorang perempuan lajang di kereta metro pukul 10 malam…. Marcos adalah semua kelompok minoritas yang dieksploitasi, dimarjinalisasi, dan ditindas, yang terus melawan dan berkata Ya Basta! (Cukup Sudah!)

Tentu, ucapan di atas hanyalah sebuah analogi yang tercantum dalam salah satu komunike yang ditulis Marcos, juru bicara Masyarakat adat Zapatista. Subcomandante Marcos merupakan sosok penting dibalik perkembangan gerakan Zapatista, melalui tulisan-tulisannya yang sebagian besar dimuat di sejumlah surat kabar Meksiko dan tersebar lewat jaringan internet itu bukan hanya menjadi sarana bagi Zapatista untuk berkomunikasi dengan pihak luar, namun juga ikut berperan penting dalam penentuan akan perubahan-perubahan strategis dari perjuangan masyarakat adat tersebut.

Dengan balaclava yang tak pernah lepas menutup seluruh wajahnya, dan rokok yang menempel di mulutnya, selalu membuat dunia bertanya-tanya tentang siapakah sosok dibalik pria bertopeng yang sering menunggangi kuda tersebut. 

Banyak pihak memperkirakan (termasuk pemerintah Meksiko), orang dibalik topeng itu adalah Rafael Sebastian Guillen Vicente, mantan profesor dari Universidad Autonama Metropoliana, Mexico City. Ada juga yang mengatakan bahwa Marcos adalah mantan gerilyawan marxis yang telah lama menghilang dan muncul kembali. Namun, itu semua hanyalah rekaan, tak ada yang benar-benar mengetahui siapa orang dibalik topeng itu. Belum lagi, pasukan EZLN lainnya  dan para petani ketika berladang juga memakai topeng yang mirip dengannya. 

Oleh karena itu, Marcos bisa menjadi siapa saja dan di mana saja, ia adalah anonimus, ia adalah simbol perlawanan yang apabila ia mati, maka pemberontakannya akan terus hidup karena Zapatista tidak hanya bergantung pada satu orang melainkan keputusan bersama. 

EZLN mungkin memang menggunakan senjata api, namun seperti apa yang di katakan Neil Harvey dalam tulisannya yang berjudul “The Political Nature of Identities, Borders, and Orders: Discourse and Strategy in the Zapatista Rebellion”, senjata mereka yang sesungguhnya adalah; kata-kata. 

Zapatista dan Sepak Bola

Bagi sebagian besar orang di Amerika Latin, sepak bola adalah segalanya, sepak bola adalah hidup. Seperti Maxim Gorky yang sempat menjadikan buku sebagai pelarian, mungkin sepak bola adalah pelarian orang-orang Amerika Latin. Pelarian dari hidup yang menyebalkan, yang itu-itu saja.
Mereka merasakan spiritualitas di dalam sepak bola, mereka juga percaya bahwa sepak bola mampu mengubah dunia, mengalahkan tiran mau pun memperluas kekuasaan.

Keyakinan orang-orang Amerika Latin tersebut tidaklah sebatas angan-angan atau utopia, mereka sudah akrab dengan realitas sosial yang berubah karena sepak bola.

Mungkin kita tahu tentang rezim Jorge Videla yang namanya sempat kembali harum setelah Argentina berhasil menjadi juara Piala Dunia 1978. Pada medio yang sama juga, Marinus Jacobus Hendricus Michels menggunakan prinsip “sepak bola adalah perang” secara praktis ke dalam strategi totaal voetbal, hasilnya? Ajax dan De Oranje dengan gagah berhasil menguasai daratan Eropa di era 70-an.

Situasi di Inggris pun pernah “kacau” karena politisasi sepak bola, tepat lima hari setelah Inggris tersingkir dari Piala Dunia Meksiko, PM Harold Wilson harus rela kehilangan tahtanya. Rakyat Inggris yang merasa di atas angin sebagai juara bertahan tak dapat mengampuninya karena Inggris kalah 2-3 dari Jerman, musuh besar mereka, pada putaran perempat final di Estadio Guanajato, Leon, 14 Juni 1970.

Keadaan yang sama dengan akhir yang berbeda untuk Brasil, pada Piala Dunia 2002, pemerintahan Fernando Cardoso sempat dibenci masyarakat karena sang presiden tersebut dianggap tak mampu memberi tekanan kepada Pelatih Luis Felipe Scolari untuk memanggil bintang kesayangan mereka, Romario Faria.

Berbagai “tragedi” dan “romansa” yang sempat terjadi akibat sepak bola itulah yang mungkin membuat orang-orang Amerika Latin, termasuk masyarakat adat Zapatista, sangat mencintai olahraga tersebut.

Subcomandante Marcos sendiri pernah menulis surat yang ia kirim kepada Don Mássimo, “Dunia sepak bola terus berevolusi. Namun, suatu saat nanti ia tak lagi jadi industri atau perusahaan, tetapi akan kembali ke sebuah permainan memikat yang pernah dibuat untuk mengikuti perasaan Anda,” tegasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s