Amorfati: Cinta dan Anarki

Aku bersamamu di sini, di Negara ini, Negara yang akan selalu siap mencekik tanpa membiarkan kita untuk benar-benar terjaga.

Aku bersamamu di sini, di Bumi ini, Bumi dengan segala kegaduhan yang semakin panas dan tiada henti diperkosa.

Aku bersamamu di sini, berbagi tragedi dan resah yang kebingungan menemukan muaranya.

Aku bersamamu, berusaha tetap menjaga kesadaran dan ingatan akan orang-orang yang mati, orang-orang yang dilupakan atau orang-orang yang tak dianggap ada.

Bukan untuk terjebak dalam distopia masa lalu, namun kita ada untuk membuktikan bahwa perlawanan tidak selesai hanya dengan paranoia yang dicipta penguasa.

Kita tak lagi percaya dongeng, di mana seorang eskapis bercerita tentang perubahan yang jatuh dari langit ketujuh menjelma kerangkeng agama. 

Kita tak lagi percaya rayuan, ludahi mereka yang berkata pemilihan umum dapat menyelesaikan problematika.

Kita bersama, aku dan kamu, tanpa vanguard dan siap menginjak kompromi sebagai konsekuensi akhir dari omong kosong istana.

Kita bersama, akan tumbuh tua atau mati diujung moncong senjata.

Namun, kita bersama, untuk membuktikan bahwa kehidupan harus kembali direbut bukan hanya dengan menikmati ilusi seraya menyerap karbon dioksida.

Rasa takut mungkin masih berdiam dikepala, namun kita bersama, setidaknya kita masih mampu menembus malam walau dibantu narkotik dari Romania.

Dunia punya luka yang sama, seorang anak mengatakannya dengan tangis di Papua.

Kapitalisme selalu menampar muka, sesekali dengan halus agar kita dirantai tak berdaya.

Bergelut di tengah masyarakat konsumer tak pernah semudah mengutuk rutinitas urban yang dipecundangi tarikan asap ganja.

Namun yang penting, ialah kita masih bersama.

Mereka di sana, bersiap membungkam kata dan mematahkan genggaman dengan kecewa yang dipaksa laiknya Sisifus yang dihukum hingga ditelan masa.

Mereka di sana, membentuk barikade dengan tembakan gas air mata dan tersenyum melalui layar kaca.

Mereka ingin kita mati sia-sia, namun kita bersama, melawan mereka yang menyebut kebebasan adalah dosa.

Mungkin suatu saat kita akan berpisah, namun setidaknya, kita pernah bersama.

Berusaha tak mengindahkan hukum yang lebih terlihat seperti lelucon ciri khas Negara dunia ketiga.

Jika suatu hari nanti kita berpisah, biarlah, setidaknya kita pernah bersama untuk mempecundangi hedonisme dan anomie dari selamanya.

Biarkan kita tetap berdiri, dibarisan yang sama meski tak lagi bergandeng tangan dalam abstraksi cinta.

Biarkan kita saling melukiskan kebebasan dan perubahan dengan darah dan mengeja nostalgia.



[Bumi, 2017]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s