Nostalgia dan Kebingungan

Sekarang aku berpikir apa saja yang sudah aku lewati selama ini. For fucks sake. Kamu tahu kenapa aku berkata seperti itu? Karena orang-orang sering bercerita tentang masa lalu, walau sebagian hanya penuh dengan cerita cinta dan omong kosong mereka. Menurutku, jika berbicara tentang masa lalu, maka ceritakanlah tentang masa di mana kita masih menjadi anak kecil yang hidupnya tak sesulit hari ini. Kita semua boleh bercerita tentang ketakutan bodoh saat kecil dulu, keliaran yang hanya dibatasi tak lebih dari pukul 6 sore. Cerita sihir, membuka buku hanya karena ingin melihat gambar-gambarnya.

Dewasa ini, kita sudah membuat hal-hal bahagia yang sederhana itu layu dalam diri kita sendiri. Yang terjadi saat ini menjadi bukti dari kenyataan bahwa kita memang menjadi asing bagi diri sendiri. Setelah kita pergi begitu jauh dari itu, kita tak bisa mendapatkannya kembali. Kita hanya memiliki waktu. Hanya waktu untuk berbagi cerita dan mengingat semua dibarengi canda dan tawa. 

Sebelum sekarang ini, ketika orang menjadi mudah menangis di bioskop, merasa dirinya tak berguna hanya karena patah hati, ditinggalkan dan meninggalkan orang berharga dengan mudah, lalu semua terus terjadi melampaui batas logis, memudar dan semakin mengering. Ketika sebuah lagu membuat kenangan mencuat dari ingatan pada jam tiga dini hari, ketika foto tua yang dipenuhi debu terkena sinar matahari yang masuk lewat sela dari jendela, saat aku mendengarkan suara kereta api yang melintas dan berpikir “kemana mereka akan pergi?”, and time flies, waktu yang menuntun kita kepada apa yang tak pernah kita harapkan.

Kebenaran tentang hidup adalah bahwa setiap waktu yang kita lewati hanya membuat kita berjalan lebih jauh dari esensi yang lahir dalam diri kita. Kita berhak atas segala tanggung jawab dan beban. Misalkan; hal-hal yang terjadi pada kita, cinta yang memudar. Orang-orang menyerah kepada lelah dan mengakhiri hidupnya sendiri. Orang-orang kehilangan arah. Sejatinya, hal-hal dewasa ini tidak begitu sulit untuk dilakukan. Hanya saja, dunia ini gila dan membingungkan seperti labirin tanpa peta. Hell is other people? Itu menurut Sartre. Karena kita, seperti biasa, kadang tak menyadari hal yang berharga sebelum hilang. Seperti tersenyum kepada orang asing, kemudian lewat, begitu saja. Mungkin hidup memang diatur untuk menjadi rumit.

Setelah semua terjadi, masalah datang menumpuk, maka kita harus mengakui bahwa kita semua ketakutan seperti anak kecil yang bersembunyi ketika mendengar suara petir. Tidak ada yang berubah di diri kita, jauh di dalam diri kita. Walau kadang sifat juga sikap kita seringkali berubah, tapi jauh di dalam diri kita adalah kita yang dulu; seorang anak kecil lugu yang tidak banyak tahu. Tidak ada yang berubah dari si Lebah Hachi, dia masih mencari ibunya. Tidak ada yang berubah dari Hey Arnold, kepalanya masih terlihat seperti bola lonjong. Hingga Angelica Pickles, si antagonis yang sedikit bermasalah dengan mentalnya yang menciptakan khayalan tentang para balita yang dia jaga beberapa waktu. Tak ada yang berubah dari itu. Lalu kita kembali khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti, kita adalah apa yang dikatakan para Sufi tentang orang-orang yang takut akan hal yang belum terjadi. Lebih jelas, kekhawatiran kita hari ini adalah hal yang sama dengan kekhawatiran kita kemarin. Hanya kita yang berubah — oleh karena itu ketakutan rumit pada setiap individu adalah sama — tapi karena kita berubah, ketakutan itu terasa menjadi lebih menakutkan.

Kembali ke dewasa ini, we’re fucked up, aren’t we? Kita lupa esensi dasar hidup yang sederhana, sementara kita terjebak dalam jaring peradaban. Maka berjalannya waktu mengajarkan kita bahwa dengan menanam kesibukan bisa mengurangi kekhawatiran untuk masa yang akan datang, dengan itu kita hanya berakhir menjadi seorang pekerja, menjalani keseharian yang sama, dipermainkan korporat, diperbudak. 

Aku akui, masa kecil sangatlah indah. Roti dan selai kacang yang selalu dibuatkan Mama, menangis karena gigitan serangga, tumpukan mainan, sepeda yang bannya sering bocor. Krayon, merobek kertas, berpindah tempat tidur ke kamar Mama karena mendapatkan mimpi buruk. Ah, hal-hal sederhana itu sangat menenangkan hati. Sepertinya apa yang di katakan Julian Barnes dalam bukunya yang berjudul “England, England” itu memanglah nyata; “Memories of childhood were the dreams that stayed with you after you woke”.

Tapi, aku harus beranjak, bukan berarti aku harus melupakan masa-masa itu. Hanya saja mungkin aku harus tetap mengeksplorasi ke-absurd-an hidup dan menciptakan hal indah yang baru — yang sepuluh tahun kedepan akan kuingat sama halnya seperti mengingat masa kecil — tentu jika aku masih hidup sepuluh tahun kedepan.

Ketika penghujung hari menggeliat, ketika gelap telah jatuh dan dipeluk sunyi, tibalah pikiran-pikiran acak dalam otak, itu bukan masalah — karena kita memilih untuk tetap hidup — yang berarti kita tahu segala hal buruk akan tetap terjadi.

Jangan lupakan hal-hal sederhana yang bisa membuatmu mengingatnya dengan senyuman di kemudian hari. Terakhir. Kesedihan dan ketakutan adalah bagian dari psikologis yang terkikis, mereka memiliki sebab. Jadi, saat kamu merasakan bahagia, janganlah terlalu hanyut di dalamnya, karena semua itu adalah hasil kerja otak yang seperti siklus, cepat atau lambat bahagia akan kembali diganti kesedihan. Maka dari itu, mengeluh bagiku bukanlah hal yang menyeramkan, karena kenyataan di depan adalah ketidakpastian. Karena, jika kita bukanlah diri kita lagi, mengapa kita harus takut dengan perubahan?

***

October 27, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s