Kita Selalu Ada. Atau Mungkin Tidak.

Lupakan mereka, omong kosong dan cacian tak berirama. 
Kita hidup di tengah masyarakat yang menjilati drama. 

Tapi kita tahu, bahwa melankolis, kontradiksi dan ironi adalah akar yang menancap dalam pencarian kehidupan yang fana. 

Mengeja jawaban yang dianggap anomie pencipta nostalgia.

Bersama destruksi kepastian yang melampaui ambiguitas paranoia.
Menyapa trotoar kota Malmö, kita bahkan tidak perlu mengingat nama orang-orang di sana. 

Kita tidak butuh skenario, tidak juga bertanya.

Mungkin benar, kita tidak hidup selamanya. Tapi kita dan saat ini adalah keabadian, seperti Carpe Diem yang menelan abstraksi masa depan, matahari yang memberi tanda bahwa gelap akan segera jatuh, dan angin yang meniup aksara.

Bahkan ketika bulan datang, kita bisa memandanginya semalaman, seperti mengajarkan bahwa kegelapan adalah pelengkap cahaya.
Berpindah ke Rosengård tanpa tergesa.

Memainkan piano setelah berhasil keluar dari labirin tanpa peta.

Sebelum salju terakhir jatuh, kita tidak akan berhenti berkelana.
Lupakan mereka, kita akan terus melangkah ke utara.

Lupakan segala kebingungan dari kegelisahan tentang makna. 

Lupakan mereka, kita akan menenggak gelas demi gelas anggur hingga muntah dan tertidur sebelum pintu terbuka.

Ketika pagi kembali berseri, kita akan memulai hari dengan kopi, rokok, buku dan Slowdive yang diputar dari piringan hitam yang tua.
Lupakan mereka, perhatikan setiap jengkal waktu yang berputar mempecundangi jarum jam yang tertawa. 

Lupakan mereka, sayang, sebelum helaan nafas terasa berat, bergumam, sebelum kedipan terakhir dari mata yang menerima duka. 
Teruslah berjalan, apa adanya.

Kita tidak akan baik-baik saja, tapi, kehidupan adalah sebuah jaringan yang memberitahu bahwa kita tidaklah sendirian di ujung semesta. 

Hingga suatu saat nanti kita terlalu lelah dan hanya dapat merasakan kenyamanan di sebuah ranjang, lupakanlah semua momen dalam ruangan tak berjendela sebelumnya. 

Entah tetap bersama atau terpisah, biarkan intuisi bermuara pada cerita tanpa suara.

Biar, biarkan saja.
Jika kita masih hidup selama 20 tahun ke depan, mungkin patung Frederik V masih ada.

Kita akan tersenyum dalam senyap karena perjalanan ketidakpastian, melahirkan makna.

Jika salju terakhir telah jatuh, setidaknya, dulu kita seringkali saling menyapa.

Jika kita tidak lagi bersama, haruskah kita berhenti mengingat dan belajar menjadi manusia saja?


Tulisan ini ditulis penuh keisengan, pada pukul 3 sore selepas hujan reda dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Artwork oleh : Henry Fuseli

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s