BOBOTOH, KEKERASAN DAN KESETIAAN.

Beberapa hari lalu, tepatnya pada pertandingan Persib vs. PBFC, hal-hal yang tidak diinginkan kembali terjadi. Bahkan semakin parah. Dari mulai tiket yang mahal, meski perputarannya tidak jelas, Bobotoh tetap rela mengantri seharian demi satu lembar tiket yang menandakan bahwa mereka dapat memasuki tribun dan bergabung dengan kerumunan lain untuk mendukung Persib.

Namun apa yang diharapkan para Bobotoh ini tidak mendapatkan jalan mudah, selain mereka yang harus mengantri seharian demi tiket, ternyata ketika pertandingan tiba, sebagian Bobotoh yang memiliki tiket tetap tidak bisa memasuki tribun. Alasannya, stadion sudah penuh. Padahal jelas, mereka memiliki tiket, hal ini menjadi pertanyaan yang seringkali membingungkan. Di setiap match Persib, apalagi di akhir pekan, sudah pasti stadion akan penuh oleh Bobotoh yang hadir dari sekitaran Bandung hingga luar kota, bahkan luar pulau. Mereka rela pergi jauh-jauh, mungkin meninggalkan beberapa aktivitas penting demi pertandingan Persib. Namun “perjuangan” ini menjadi tidak berarti ketika mereka gagal masuk ke stadion. Pertanyaannya, kenapa? Jelas, sudah menjadi rahasia umum, bahwa manajemen Persib seolah memelihara keburukan sistem ticketing yang hingga kini terus berjalan.

Bagi Bobotoh, Persib bukan sekadar klub sepak bola yang bermain dengan sebelas pemain di lapangan hijau. Persib adalah darah yang mengalirkan kebahagiaan dan melenyapkan segala resah ditengah-tengah kehidupan yang disesaki kesibukan. Bahkan lebih dari itu. Persib sudah menjadi bagian dari hidup mereka, tanpa diminta, mereka rela mengorbankan segala sesuatunya.

Namun dengan gencarnya kemajuan industri sepak bola dan hegemoni media, Persib berubah menjadi klub kaya yang tak pernah puas akan financial. Setiap pertandingannya berubah menjadi lahan profit yang siap dipanen. Jangankan berharap Liga Indonesia menjadi seperti Bundesliga yang mewajibkan setiap klub membiarkan suporternya untuk memiliki saham minimal 50%+1, di sini, bahkan manajemen klub enggan melakukan transparansi. Hal ini mengakibatkan kesenjangan lainnya, dan yang paling nyata adalah semakin bertebarannya para calo yang menjual tiket berkali-kali lipat mahalnya.

Di tubuh Persib sendiri, sangat rumit, manajemen seolah menutup mata akan adanya segala insiden terhadap Bobotoh. Contohnya pertandingan kemarin, banyak Bobotoh yang berdesakan hingga pingsan, terluka karena pagar yang runtuh, hingga kebrutalan aparat sekitaran stadion. Apa yang disayangkan adalah, ini bukan kejadian pertama, mungkin bukan juga yang terakhir. “Maen di kandang, asa di tandang. Sabalikna, maen di tandang asa di kandang.” ucap seorang Bobotoh yang mengeluhkan keburukan sistem ticketing.

Akhirnya Bobotoh yang frustasi berhasil memaksa masuk, akibatnya tribun semakin penuh hingga menyebar ke sisi-sisi lapangan. Dalam keadaan tribun yang penuh sesak tersebut, kembali melahirkan korban, anak-anak dibawah umur berdesakan dengan orang dewasa, bahkan ada yang hingga jatuh dari tribun. 

Tidak berhenti disitu, beberapa saat setelah pertandingan selesai, suasana menjadi semakin panas. Sebagian Bobotoh yang marah melemparkan flare dan smokebomb ke sisi lapangan, dan anehnya, sebagian flare tersebut dilemparkan kembali dari bawah ke atas tribun barat samping oleh sesama Bobotoh, bahkan hampir mengenai anak kecil dan seorang Ibu. Di tribun utara, situasinya tidak jauh berbeda, mungkin lebih parah, kerusuhan sesama Bobotoh (kembali) terjadi. Korbannya bukan hanya para lelaki, namun juga anak kecil dan perempuan. Tribun yang penuh serta kerusuhan tersebut memakan cukup banyak korban, mereka yang sesak nafas, terluka akibat terinjak-injak, hingga terluka karena perkelahian. Tentu, ini tidaklah baik-baik saja.

Entah kapan kejadian semacam ini akan berakhir, yang jelas tidak akan pernah berakhir jika ternyata ego yang berdiri paling depan. Saya juga menyayangkan tidak adanya media-media Bobotoh yang memberitakan berbagai kejadian kemarin dengan detail, sehingga membuat sebagian Bobotoh berpikir semua ini bukan masalah.

Persoalan tiket bukanlah soal untung-rugi, sama sekali bukan. Karena seberapa mahal tiket setiap pertandingannya, Bobotoh akan tetap membelinya, bahkan ada yang rela menabung dan menjual barang-barang yang dimilikinya. Maka jika kita mengeluhkan harga tiket yang mahal dan sistem yang buruk didalamnya, ini bukanlah persoalan untung atau rugi. Ini adalah bentuk kecintaan yang lebih nyata terhadap Persib, karena cinta bukan berarti harus buta dan tidak mengindahkan hal-hal janggal ini layaknya orang yang sedang terhipnotis. Cinta adalah kata abstrak yang melambangkan perjuangan, keberanian dan perlawanan. Jika yang kita cintai tersebut berada dalam posisi yang tidak jelas, kita harus berani mengkritik. Jika yang kita cintai ini justru melakukan hal-hal yang kita benci, kita harus berani bangkit dan merawatnya bersama agar semua kembali menjadi baik. 

Harus berapa banyak lagi Bobotoh yang menjadi korban kekerasan sesama Bobotoh? Harus berapa banyak lagi mereka yang terluka karena beberapa kebijakan manajemen yang merugikan? Harus sampai kapan lagi kita menyaksikan drama dari ketidak-berpihakan manajemen kepada sebagian kelompok Bobotoh yang lain? Karena sejatinya, Bobotoh tidak mengindakah semua masalah tersebut. Mereka tak pernah bosan dan kapok untuk kembali menghadiri pertandingan meski kejadian-kejadian buruk bisa kapan saja terulang. Bobotoh adalah lambang kesetiaan. Dalam tahap ini, bukanlah menang atau juara lagi yang mesti kita tuntut. 

Persib bukanlah apa-apa tanpa adanya Bobotoh. Jika para petinggi klub ini juga mengaku sebagai pendukung Persib, semestinya mereka tidak memeras sesama pendukung yang berdiri di tribun-tribun. Namun kenyataannya berbeda. Jika Bobotoh adalah nafas dari Persib, semestinya Persib lebih mendekatkan diri dengan Bobotoh dan peduli dengan segala hal yang terdapat dalam lingkungan Bobotoh itu sendiri. Karena jika nafas berhenti berhembus, jiwa pun berhenti begejolak.

Mengutip Efek Rumah Kaca, Bobotoh ini “seperti pelangi, setia menunggu hujan reda”, hujan yang dimaksud adalah segala keburukan yang dibiarkan manajemen Persib. “Semoga ada, yang menerangi sisi gelap ini.” sisi gelap yang dimaksud adalah segala permasalahan yang terdapat di dalam tribun itu sendiri. Bagaimana tidak, pendukung sepak bola dewasa ini berada dalam lingkaran hierarki. Penuh kebencian, dendam dan hasrat ingin mendominasi. Padahal, mereka mendukung klub yang sama. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s