Musuhmu, Musuhku: A.C.A.B

Sejatinya, meski berdalih apa pun, kekerasan tetaplah kekerasan. Namun kau juga mesti tahu, bahwa terselip kreatifitas dalam hasrat untuk merusak, begitulah kiranya menurut Bakunin. 

Sepak bola dan kekerasan, atau kekerasan dan sepak bola. Sama saja. Keduanya sulit dipisahkan, layaknya matahari dan bulan yang saling melengkapi. Oh tentu, aku menolak kekerasan antar-suporter fanatik yang masih doyan berilusi lewat identitas mereka. Namun sesuatu yang akan aku bahas kali ini bukan merupakan rivalitas yang melahirkan kekerasan antar-suporter, yang ternyata, khususnya di Indonesia ini, hanya melanggengkan sukuisme dan fanatisme buta. Sekadar mengingatkan, coba kau lihat ketika sebagian (mungkin sebagian besar) dua atau lebih kelompok suporter yang mengklaim sudah bermusuhan sejak lama itu berjumpa dalam satu stadion, atau dalam perjalanan sebelum maupun setelah awaydays. Suporter A, misalnya, akan mudah menghujat suporter B dengan kata-kata yang tak semestinya dilontarkan, contoh; “Woy betawi bang***” atau, “Dasar sunda anji***” atau juga, “Sialan jawa gob***” apa itu masih kurang mencerminkan bahwa fanatisme buta itu tidak baik? 

Mengenai rivalitas, silakan kau simpulkan sendiri. Keputusan ada di tanganmu, tetap melanjutkan budaya tak bermuara demi menunjukan siapa yang terbaik tersebut, atau duduk dan berpikir.

Terlepas dari gengsi rivalitas, sesungguhnya, para suporter ini memiliki musuh yang lebih nyata ketimbang sesama suporter, siapa lagi menurutmu? Mungkin kita tidak bisa membakar gedung PSSI lalu mengubah semua sistem persepakbolaan menjadi kolektif, namun musuh nyata yang selalu kita saksikan di setiap pertandingan dengan berdiri tegak di bawah (atau bahkan di beberapa bagian tribun), yang terus memasang tatapan tajam kepada setiap apa yang kita lakukan di tribun, layaknya big brother yang merekam setiap jengkal gerak. Mereka adalah Polisi, bahkan juga Tentara. 

Suporter mana yang tidak pernah bentrok dengan Polisi atau Tentara? Barisan yang kokoh dipersenjatai tameng, gas air mata, pentungan hingga senjata api. Sedangkan kita, suporter di Indonesia, paling-paling hanya bisa merakit senjata tajam. Dan dengan penjelasan samar tersebut, apa sudah cukup menggambarkan siapa musuh kita yang sebenarnya? Ya, musuh kita adalah mereka yang berlagak pelindung namun justru sebaliknya. Musuh kita adalah moncong senjata yang siap ditembakan para arogan berjalan yang menggunakan seragam. Eh ingat, “Kita” yang aku maksud adalah kita, ya kita, bukan “mereka” yang juga disebut suporter dadakan yang berdiri mendukung Bhayangkara FC atau PS TNI. Meskipun memang, sejarah sepak bola di Indonesia ini tidak bisa lepas dari militerisme. Namun, peduli setan dengan semua itu, zaman sudah berubah. Ini saatnya untuk kita.

Insiden kekerasan oleh Tentara terhadap suporter yang paling mengangetkanku adalah, ketika pertandingan antara Gresik United melawan PS TNI. Mereka itu, ya, sudah mengklaim diri sebagai garda depan pertahanan republik sekaligus membantu para pemegang modal melancarkan proyek-proyeknya, kali ini justru ikut-ikutan berlagak suporter garis keras. Bahkan dengan sederet bendera, tabuhan drum hingga koreografi, mereka tetap tak bisa disebut ultras. Hal serupa juga terdapat pada suporter Bhayangkara FC, eh, memang ada ya? Hehe, soalnya aku hanya lihat spanduk-spanduk besar terbentang tanpa ada satupun orang yang berdiri di sana. Tapi ya, sama sajalah. Kita jangan, jangan pernah lupa tentang kasus pembunuhan seorang suporter Persija Jakarta, Fahreza. Siapa yang membunuhnya? Setan? Hah? Iblis? Ya, mereka itulah setannya, mereka itu iblisnya. Mereka yang selalu menindas, tapi ogah dilawan. Mereka selalu ingin mendominasi, mengamini hirarki, memuja pemerintahan terpusat. Masih kurang jelas, bahwa musuh kita itu sama?

Mereka ini selalu berusaha mengontrol hidup kita, berapa banyak aksi damai yang mereka bubarkan? Masih ingat dengan empat wartawan yang menjadi korban kekerasan Polisi ketika meliput keributan antara Bonek dan Polisi? Bukankah itu jelas, bahwa mereka tak ingin kebusukannya terbongkar? Ah tentu, berbeda jika kau bicara soal aksi damai yang diinisiasikan oleh sekelompok fundamentalis agamis, mereka baik, menyambut, baik sekali… hih. Untuk lebih meyakinkan, aku ingin bertanya, berapa banyak nyawa manusia, khusunya suporter, yang mesti melayang karena kekerasan yang mereka lakukan? Mereka melakukan itu atas nama “penegakan keamanan”, atau berdalih “keterpaksaan”, tapi apa yang terjadi jika kita melawan tindakan mereka? Kita yang muak didominasi? Kita yang muak dikontrol? Kita yang muak dengan segala doktrin penyebab paranoia? Untuk itu, bukalah mata, sadarlah bahwa mereka tak lebih dari budak yang dititah. Segerombol fasis yang selalu ingin mendapat citra baik, kini bahkan mereka memiliki acara reality show di TV untuk semakin menutup kebusukan dengan akting. 

Sisi Lain

Ketika kita bicara soal kekerasan dalam sepak bola, kita akan disuguhkan dengan keributan antar-suporter. Namun, di sisi lain, kita dapat melihat dengan jelas bahwa musuh para suporter yang utama adalah para pengendali, para penguasa yang membatasi kebebasan suporter itu sendiri. Aku ingin sedikit membangunkan ingatan tentang keunikan para ultras di Italia, ya, siapa yang tidak tahu mereka? Dibalik gengsi rivalitas, ada pemersatu yang dapat melelehkan ego masing-masing, yaitu hanya dengan empat huruf; A.C.A.B. Itulah sedikit keunikan sekaligus semboyan para ultras di Italia sana. Mungkin kita juga masih ingat, insiden pembunuhan seorang Polisi bernama Filippo Raciti, yang terjadi pada pertandingan antara Catania vs. Palermo, Raciti tewas oleh kedua kelompok ultras yang mendukung dua klub berbeda tersebut. Lihatlah, sebuah romantisme bisa muncul lewat kebersamaan dari dua kelompok yang terkenal “kejam” terhadap sesama suporter itu.

Bagiku ketika melihat atau kebetulan berada di sebuah keributan melawan Polisi, jika beruntung, melawan Tentara, adalah sebuah seni tersendiri. Ketika aku melihat seseorang yang mulanya ragu dan takut untuk melemparkan batu, mampu terpacu emosinya ketika melihat kawannya dihujani pukulan pentungan dan sepatu boots. Perlawanan adalah sebuah seni dalam kekerasan. Kita, suporter masa kini yang dikelilingi hirarki dan hegemoni komoditas yang sekaligus beronani dengan mazhab komersialisasi sepak bola modern, tidak bisa duduk manis di kursi-kursi dari tribun yang sudah direnovasi dan membiarkan semuanya terjadi atas dalih “mencintai tim kita”, karena seharusnya cinta adalah perjuangan, perlawanan dalam arti seluas-luasnya. Kita tidak bisa selalu terhipnotis para moralis semu yang kini menguasai sepak bola, di sekitaran tribun, hingga di dalam gedung federasi. Mereka sama saja. 

Karena sejatinya, mereka tak bisa menyatakan perang terhadap kekerasan sepak bola. Cerminan paranoia terhadap Polisi dan Tentara ini dapat kita temukan lewat masa Orde Baru, di mana aparat menjadi ujung tombak pemulus pemerintahan diktator agar tetap terjaga, sejuta kasus kekerasan, pembunuhan hingga penculikan terjadi secara rapi, meski beberapa dari kasus tersebut dilakukan dengan terang-terangan, mereka tetap aman. Siapa yang dapat melindungi masyarakat dari kekerasan, jika ternyata, merekalah yang tersenyum menyeringai setelah berhasil “membasmi” sebagian dari kita yang lantang mengucapkan kebenaran?

Mungkin kita dapat melihat masyarakat Inggris yang menjadikan sepak bola sebagai simbol pembangkangan yang ditujukan terhadap otoritas kerajaan pada masa ratu Elizabeth I, untuk bahan refleksi saja. Karena dari mana pun kita berasal, kita berada di sebuah lingkaran yang sama, yaitu sepak bola. Semestinya sepak bola dapat menjadi alat pemersatu bagi kita yang terpecah, yang sama-sama ditindas oleh pemerintahan terpusat beserta antek-anteknya. Semestinya sepak bola dapat menjadi senjata revolusi, seperti apa yang dikatakan Che Guevara. Sepak bola adalah kebebasan, seperti apa kata Bob Marley. Namun aku paham betul, bahwasannya kita tak dapat memaksakan sebuah pemikiran kepada yang lain. Aku juga sadar, hanya segelintir saja dari suporter yang berpikiran (hampir) sama denganku, meski dengan manifesto yang berbeda-beda penyesuaiannya — itu sama sekali bukan masalah — oleh karena itu, aku setuju dengan Fannie Lou Hamer yang berpendapat bahwa tiga orang lebih baik daripada tidak seorangpun. Dan aku tidak lupakan Peter Kropotkin, yang dulu kembali membangkitkan semangatku ketika orang-orang mengumpat bahwa aku adalah pengkhayal, Kropotkin pernah berkata; “Revolusi selalu di mulai oleh minoritas.”

Jadi, apa kita hanya akan berdiri menunggu sesuatu yang lebih buruk terjadi seperti sebelumnya? Ataukah, mengikuti filosofi sepak bola, bahwa “Pertahanan terbaik adalah menyerang”? Kita, bersatu, lawan segala bentuk penindasan oleh para manusia yang ingin mendominasi manusia lain, kita tak bisa selalu hidup di air yang tenang, berikan ombak atau badai agar mereka menyadari bahwa keberadaan kita adalah sebuah bukti mutlak penolakan akan penindasan!

Advertisements

3 thoughts on “Musuhmu, Musuhku: A.C.A.B

  1. soal A.C.A.B. ini saya jadi ingat momen lucu di Malang. saya ketemu pawai kemenangan Arema dalam perjalanan pulang usai membudak, dan lgsg melipir duduk di trotoar buat nontonin — lagipula jalanan macetnya minta ampun. itung-itung hiburan usai membudak. saya lihat ada sekelompok Aremania kibarkan spanduk besar bertuliskan “A.C.A.B.” dengan huruf “A” paling depan ditulis pakai model Circle A. saya pikir keren juga, tapi yg bikin saya senyum kecut sambil ngelus dada itu tulisan kecil di bawahnya: “All Cops Are Brothers”.

    sewaktu rombongan bawa spanduk melintas, saya teriak “bangke keong!” :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s