Apakah Kita Manusia, atau Penari?

Hal-hal yang dianggap membingungkan selalu memacu lahirnya sebuah diskusi, hingga perdebatan. Begitu pun dengan sebuah lagu, ya, hanya sebuah lagu. Mungkin kamu pernah mendengar lagu dari The Killers yang berjudul “Human”. Lagu itulah yang akhirnya menjadi bahan diskusi ‘dadakan’ aku dan beberapa teman.

Maksudnya, coba kamu sendiri pikir, “Are we human or are we dancer?” artinya apa? Memang membingungkan. Lagu ini sebenarnya sudah banyak menjadi perdebatan dikalangan pecinta musik. Bahkan lagu yang satu ini pernah memuncaki tangga nomor satu lagu teraneh beberapa tahun lalu, berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh Blinkbox Music terhadap 2.000 orang. 

Salah satu temanku terlihat sangat bingung, “Are we human? Or are we dancer? Dancer juga manusia, kan? Eh gimana sih?” tanyanya sambil menggaruk kepala. Temanku lainnya juga tak ingin ketinggalan dengan bertanya, “Itu dancer atau denser, sih?”

Bahkan Brandon Flowers sebagai vokalis The Killers sendiri pun pernah merasa frustasi ketika fans mereka kebingungan dengan lirik “Human”. Sebelumnya Brandon menjelaskan bahwa Ia mengutip Hunter S. Thompson, “We’re raising a generation of dancers” namun penjelasan tersebut nampaknya tak membuat sebuah kejelasan, dengan kesalahan tata bahasa di lagu “Human” juga menambah kebingungan orang-orang. 

Jadi, daripada kebingungan dengan lirik “Human” ditambah penjelasan Brandon Flowers yang masih samar, mari memaknai lagu ini sendiri!

Pertama, kata-kata “We’re raising a generation of dancers,” tidak tercantum dalam literatur Hunter S. Thompson mana pun, kamu bisa coba mencari semua hasil kerjanya di Google dan beritahu aku jika kamu menemukan kata-kata tersebut jelas ditulis oleh Thompson. 

Kedua, aku akan mulai memaknai lagu ini sesuai pendapatku. Tentu, kamu pun bisa melakukannya.

“I did my best to notice

When the call came down the line

Up to the platform of surrender

I was brought but I was kind”

Bagian ini tampak seperti seseorang yang sedang melakukan pencarian terhadap dirinya sendiri, yang beranjak dewasa dengan berusaha untuk tetap baik, namun seperti kenyataan yang selalu kita terima diakhir usaha; kita tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kita mau. Jadi, kepasrahan lah yang akhirnya datang. Mau tidak mau, karena hidup ini dikelilingi ketidakpastian.

“And sometimes I get nervous

When I see an open door

Close your eyes, clear your heart

Cut the cord” 

Bagian kedua ini semakin memperjelas bahwa Brandon Flowers seolah ingin menunjukan pengalamannya, yang mungkin kita semua juga pernah mengalaminya. Ya, kebingungan terhadap kehidupan. Kita yang ragu untuk melangkah ke depan, meski ‘pintu’ telah terbuka, kadang kita sulit melepaskan jerat masa lalu yang akhirnya memaksa kita untuk berkutik ditempat yang itu-itu saja. Maka dari itu kita harus membersihkan hati dari segala penyesalan, amarah dan dendam lalu memejamkan mata dan berpikir jernih; “Cut the cord!” potong tali itu! Lampaui batas keraguan itu, eksplorasi terhadap kehidupan selalu menyenangkan ketika kita berhasil menjaga kesadaran bahwa kita hidup dalam segala ketidaktahuan. Jangan ragu, jangan cemas, apalagi takut. Kita harus melampaui itu semua, dan langkah pertama adalah kembali menjaga kesadaran, bahwasannya tidak ada kebenaran absolut, tidak ada sesuatu yang utuh, istilah selamanya juga tidak pernah ada. Kita bagai kertas kosong, dan kita ‘menuliskan’ hidup dengan pikiran, tapi sayangnya apa yang kita pikirkan bukan berarti kenyataan. Kita bukanlah pikiran kita. Kita adalah kita, sederhana dan apa adanya. Clear your heart, dengan hati dan pikiran yang jernih kita tidak akan terbebani dengan segala sesuatu yang sebelumnya menjadi keluh kesah. 

“Are we human or are we dancer?

My sign is vital, my hands are cold

And I’m on my knees looking for the answer

Are we human or are we dancer?” 

Apa itu manusia? Seperti pertanyaan temanku yang kebingungan, “dancer” juga adalah manusia. Tentu, binatang pun bisa menari. Tapi kata “WE” dalam lirik tersebut berarti kita, kita, manusia? Atau Dasein seperti sanggahan Heidegger yang dalam filsafat Jerman disebut destruksi metafisika? Di bagian ini, aku seketika teringat kepada ‘amanat’ Socrates. Ia yang semasa hidupnya dulu sering berpesan agar kita terlebih dulu mengenali diri kita sendiri sebelum mencari tahu ada apa di luar sana. Karena menurut Socrates, segala persoalan di dunia ini terpendam dalam diri setiap manusia. Maka dari itu, Ia juga terkenal dengan ‘Socrates Method’, di mana Ia berteriak-teriak “Gnothi Se Authon” (Kenali dirimu) dipasar-pasar hingga ke kota. Jadi, are we human? Or are we dancer? Adalah sebuah ajakan untuk lebih mengenal diri kita sendiri, karena toh dancer yang dimaksud lirik ini pun adalah kita. Tapi, siapakah ‘kita’ sebenarnya yang menjadi pertanyaan. Tapi tidak perlu diperdebatkan, karena seperti yang kita tahu, kita adalah ketidaktahuan. Yang kita ketahui hari ini adalah berawal dari ketidaktahuan, dan setiap dari kita memiliki jawaban tersendiri, jawaban tersebut bisa dipengaruhi oleh budaya, keluarga hingga lingkungan sekitar, maka dari itu tidak ada sebuah kepastian yang absolut. Tapi jika kita sadar bahwa kita tidak tahu, kita tidak akan mudah terpengaruh oleh berbagai pengetahuan yang berubah-ubah dari kehidupan di masa lalu dan ilusi dari harapan-harapan masa depan. Karena kita hidup saat ini, di sini, setiap saat adalah momen baru yang menyenangkan. 

“Pay my respects to grace and virtue

Send my condolences to good

Give my regards to soul and romance

They always did the best they could”

Di bagian ini, kembali, Brandon Flowers seolah sedang menceritakan persoalan yang hampir pernah atau sedang kita lewati dewasa ini. Kita hidup dalam prasangka. Sebarapa besar usaha kita untuk terlihat ‘baik’ (dalam definisi apa pun) pada akhirnya tetap akan ada orang yang berprasangka buruk tentang kita, menghakimi seolah mereka lah yang paling benar. Mereka yang melakukan kejahatan besar, justru, biasanya adalah mereka yang mengaku bermoral tinggi, perbudakan dan pembunuhan dilakukan dengan ‘cantik’ oleh orang-orang yang mengaku bertuhan dan bermoral. Namun melawan mereka dengan hal serupa hanya akan melahirkan kesenjangan, dengan memupuk dendam kita hanya akan memelihara duka yang akan lahir kemudian hari. Aku ingat salah satu pendapat Buddhis yang cocok untuk persoalan ini, bahwa orang yang menyimpan dendam dalam dirinya hanya akan melukai dirinya sendiri bahkan sebelum Ia mampu melukai orang lain. Maka ucapkan “Terima kasih” kepada mereka yang telah melakukan hal buruk kepada kita, secara tidak langsung, mereka telah mengajarkan bahwa hal tersebut tak pantas dilakukan oleh manusia kepada manusia lainnya.  Point dari bagian ini (mungkin) dapat ditemukan dalam bagian selanjutnya.

“And so long to devotion

You taught me everything I know

Wave goodbye, wish me well

You’ve gotta let me go”

Bagian ini mungkin adalah inti dari bagian sebelumnya. Ucapkan selamat tinggal kepada kepatuhan. Dengan hidup dalam patuh berarti kita menyerahkan hidup kita diatur oleh pihak atau orang lain, hidup kita berarti kesadaran dan pikiran kita. Menurut Nagarjuna, kebijaksanaan sejati lahir dari kesadaran akan kekosongan hidup dan dunia didalamnya. Maka kita harus melepaskan segala belenggu dalam hidup yang membuat kita enggan keluar dari ‘tempurung’, bahkan jika belenggu tersebut diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Lepaskanlah. Kebebasan adalah keberanian untuk berubah dan belajar dari kesalahan yang telah kita atau orang lain lakukan, dan menjaga kesadaran adalah penting agar kita tidak lagi mengulanginya.

“Will your system be alright

When you dream of home tonight?

There is no message we’re receiving

Let me know, is your heart still beating?”

Kembali, di bagian ini kita dihadapkan dengan kenyataan. “WE’RE” yang tercantum adalah kita, dan kita tidak menerima jawaban apa pun dari apa yang kita cari selama ini. Lebih tepatnya, kita sudah mencari tahu, dan yang kita dapat adalah ketidaktahuan, maka kita kembali bertanya dan bertanya. Kebingungan. Is your heart still beating? Sepertinya Brandon Flowers mengajak kita bermain intuisi, karena kita tidak selalu dapat percaya kepada pikiran kita sendiri. Maka dengan melatih intuisi, kita dapat memahami sesuatu tanpa konsep rumit. Berbeda dengan pikiran, dengan intuisi kita tidak akan bertanya “Apa dibalik batu itu ada udang?” namun kita langsung melihat ke balik batu tersebut dan melihat ada udang di sana. Sederhana. Tanpa konsep.

******

Lirik dari lagu “Human” tetap tidak menghadirkan jawaban objektif, karena setiap dari kita akan menafsirkannya berbeda-beda. Terlepas dari itu semua, berhentilah berpikir untuk beberapa saat. Biarkan dirimu bebas dari segala belenggu yang membuat dirimu seperti seorang ‘dancer’, yang setiap geraknya sudah diatur sedemikian rupa, entah oleh pihak lain di luar dirimu, atau bahkan dibatasi oleh dirimu sendiri. Lagu ini juga banyak melahirkan pertanyaan. Apakah kamu manusia? Siapakah kita? Siapa mereka? Apakah kita hidup sesuai apa yang kita inginkan? Apa mereka hidup sesuai yang mereka ingin? Apakah momen ini akan bertahan selamanya? Apakah kita sudah terbebaskan? Apa itu bebas?

Tapi yang aku tangkap adalah, lagu “Human” ini sederhana. Seperti hidup kita. Namun semua ini terlihat rumit oleh karena kita sendiri. Kita yang terperangkap segala pertanyaan dan kebingungan akan dunia. Dan jalan keluarnya adalah, melepaskan. Kita tidak selalu dapat memaksakan ambisi. Kita tidak bisa selalu tenggelam oleh sukacita masa lalu, kita tidak bisa terpaku dengan ilusi-ilusi masa depan. Dengan kesadaran yang tetap dijaga, kita akan begitu saja menata hidup kita tanpa perlu kebingungan. Bersihkan pikiran, suatu hari nanti kita akan menjadi bangkai yang dijilati segerombol serangga, maka dari itu kita harus kembali bertanya, siapakah kita? Bukan tentang menolak keburukan dan menjadi baik. Tapi menerima kenyataan bahwa kita hidup saat ini, dengan segala pertanyaan yang jawabannya ada dalam diri kita sendiri, meski semua itu berakhir disatu titik; tidak tahu.

Advertisements

5 thoughts on “Apakah Kita Manusia, atau Penari?

  1. dari lirik lagunya, Brandon Flowers ini kyk-nya eksistensialis-cenderung-nihilis ya? saya jadi ingat katanya Pram: “Hidup itu biasa saja, yg hebat cuma tafsiran-tafsirannya.”

    btw, salam kenal bung. 🙂

    Like

  2. Permasalahan bahasa akan lebij banyak dilirik nantinya ketimbang logika, terjadi di tradisi filsafat analitis khususnya bahasa. Hmm menarik bung 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s