Papua Adalah Kita!

Teruntuk kalian, khususnya teman-temanku yang mengikuti jejak keangkuhan negara ini dan malas membaca juga meyakini bahwa sejarah yang selama ini diajarkan mengenai persoalan Papua Barat adalah benar. 

Aku hanya ingin berkata…
Siapa yang mampu menolak dunia modern? Setidaknya, siapa yang tidak butuh? Tanya mereka. Apa perubahan itu berarti kemajuan, yang berarti harus merelakan tanah yang sudah dihuni turun-menurun harus digusur; mereka akan menolak kemajuan. Jika kemajuan itu berarti harus memakan makanan yang tersedia di restoran-restoran siap saji, sedangkan kebun-kebun ubi, kacang panjang hingga timun yang mereka rawat bersama harus diratakan; mereka akan menolak kemajuan. Mereka tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang kolonial dan kapitalis yang terus menghisap isi perut bumi, membunuh anak-anak muda yang dulunya mereka besarkan dengan susah payah.

Apa yang mereka dapat? Kesengsaraan? Lebih dari itu! Dibalik teriakan kebebasan yang menghadapkan mereka dengan moncong senjata, jauh di dalam hati kecil, mereka menangis, namun itu menjadi kekuatan mereka tesendiri; diatas nama perjuangan yang melanjutkan perlawanan dari lima ratus ribu lebih nyawa yang sudah hilang dari pijak bumi, sejak invasi yang mulai dilakukan lebih dari lima puluh tahun lalu. Dan itu belum selesai, belum. Hingga kini, rakyat Papua terus hidup dalam pengasingan dan kesedihan. Kalian dapat melihat sederet fakta tentang insiden-insiden yang hingga saat ini masih sering terjadi, entah itu kasus pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan, kriminalisasi hingga mereka yang “menghilang” setelah ditahan. Masih saja kamu berteriak “NKRI harga mati!”? Huh? Ya, harga mati. Buktinya, sudah terlampau banyak orang yang mati atas nama penegakan NKRI.

Omong kosong negara ini bicara pembelaan HAM, haha. Jika Indonesia benar-benar Negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai HAM berdasarkan Pancasila yang diyakini sebagai pandangan hidup mereka, seharusnya Munir masih hidup, seharusnya tidak pernah ada kasus para aktivis hingga jurnalis yang hilang atau dibunuh, seharusnya tidak pernah ada kudeta, dan seharusnya, Papua tidak diisolasi dari dunia luar.

Kamu masih percaya bahwa akar permasalahan di Papua adalah soal kesejahteraan? Itu, omong kosong lain yang kamu dapat lewat pendidikan sejarah yang ditulis pemenang, setidaknya, yang memaksakan diri untuk menang. Permaslahan di Papua adalah perihal sabotase wilayah yang dilakukan Indonesia terhadap Belanda, karena sejatinya, Papua adalah salah satu wilayah dekolonisasi yang telah dipersiapkan untuk merdeka sama halnya dengan wilayah-wilayah lain di pasifik. Namun, Indonesia yang “rakus” melihat sebuah pulau emas yang dikatakan oleh pelaut asal Spanyol, Antonio Del Savera. Pulau emas itu adalah Papua Barat dan Papua Timur. 

Oleh karena itu, Indonesia menyatakan dengan angkuh bahwa semua wilayah bekas jajahan Belanda adalah NKRI. Itu keegoisan yang sangat, sangat lucu. Mengapa lucu? Ya, karena sudah dengan jelas dalam proklamasi dan sumpah pemuda, wilayah NKRI hanya mencakup Aceh hingga Maluku. Namun kembali, keangkuhan Indonesia ini terbukti adanya lewat segala lobi dan konferensi, akhirnya dilanjutkan oleh berbagai operasi yang melahirkan genosida yang makin “garang” pasca berhasil memproklamasikan kemerdekaan (Padahal kemerdekaannya diberikan Jepang, dan rakyatnya cuma “Di antar menuju gerbang” hehe).

Maka, meski terus dipaksa, di sisi pro dan kontra, mereka yang sadar akan tetap menolak menjadi Indonesia! 

Tidak apa-apa, teman. Akupun dulu percaya bahwa Papua adalah Indonesia. Tapi akupun bisa berubah ketika mulai skeptis atau berusaha, belajar dan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana. Semoga, sedikit saja, kalian tercerahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s