TERGAGU : Papua dan Kamu yang Tak Acuh

Aku sudah kenyang diejek, direndahkan, dituduh penyebar kebohongan atas apa yang aku sampaikan tentang West Papua, entah itu di sosial media maupun obrolan hangat di kala sore selepas hujan bersama kawan. Baiklah, itu hak kalian untuk berprasangka se-enak hati kalian. Tetapi, saling lempar jargon dan merasa apa yang diucap paling benar hanya akan menambah penderitaan mereka. 

Kalian boleh saja berpikir bahwa keadaan keras yang terjadi di Papua dari dulu — hingga sekarang adalah karena — mereka ‘kurang pendidikan’. Tetapi, kawan, pahamilah mengapa semua itu terjadi. Pahamilah! 

Bukan hanya perihal ketidakadilan dan sikap Negara yang mengakui semua wilayah Nusantara bekas jajahan Belanda adalah wilayahnya, yang seolah mengisolasi dan memaksa diam rakyat Melanesia — yang sudah tinggal turun menurun — bergenerasi, di Pulau Papua. Lalu masihkah kalian menutupi kenyataan dengan tetap menyebut mereka ‘bodoh’ atau ‘kurang berpendidikan’, sehingga menyebabkan situasi di sana makin hari makin sulit? Jika jawabannya ‘ya’, maka cepat atau lambat kalian akan menyesali sikap egois itu. Itu pun jika rasa kemanusiaan kalian masih hidup. 

Aku tak ingin disebut berlagak paling memiliki rasa humanity, tetapi, kawan, aku hanya sedang berusaha jadi manusia! Aku tak ingin menjadi hipokrit dengan membiarkan penindasan yang mewajarkan sistem eksploitatif. 
Selain gerakan sosial di Papua semakin menggeliat ke arah positif. Dari lalu lalang pedagang dan pembeli di pasar yang becek di desa-desa, hiruk pikuk perkotaan, para mahasiswa yang makin tekun di kampus mereka, sunyi hutan yang makin terdengar bisiknya, hingga tembok-tembok dingin yang dihalangi jeruji penjara. Mereka terus bergerak, dari tiarap hingga siap melemparkan tombak, dari jiwa-jiwa sedih yang terpacu, semangat mereka semakin tinggi!

Lalu banyak dari kalian yang berseru “Jangan cuma bicara, turun langsung ke Papua!” Betul, turun langsung ke zona tempur adalah jalan terbaik. Tetapi sebelumnya, coba jelaskan apa yang disebut ‘solidaritas’ itu? Solidaritas dimulai dengan sebuah hal yang sederhana, yaitu; pemahaman. Dan bersolidaritas hadir dalam berbagai cara.

Ada ratusan hingga ribuan tulisan yang menyuarakan kebebasan untuk West Papua. Sama seperti jutaan tulisan yang mendukung kebebasan rakyat Palestine, apa semua yang menulis dan mendukung itu ikut ‘jihad’ ke sana? Tidak. Hal ini harusnya didukung, bukan malah menyebar prasangka yang keliru. Karena perjuangan di sana bukanlah perjuangan untuk Papua saja. Apa yang terjadi di sana adalah tentang kejahatan korporasi, kekerasan aparat, genosida, pemusnahan adat dan budaya setempat, hingga perusakan alam. Dan itu bukanlah sebuah kasus yang tak disengaja! 

Jika apa yang terjadi di Papua belakangan ini dibilang ‘propaganda’ atau pembohongan, maka aku akan coba tuliskan deretan kronologi kasus dan peristiwa yang terjadi di tahun 2010, berdasarkan sumber yang nyata, yang juga dimuat berbagai blog, website dalam dan luar negeri, juga dikemas dalam bentuk poster di tahun yang sama; semoga kalian diberi pencerahan.

  • Januari  2010 : Dua puluh judul buku, termasuk sebuah terjemahan deklarasi PBB Hak Asazi Masyarakat Adat, dilarang beredar di Papua.
  • 29 Januari 2010 : Sebuah penelitian dari Universitas Indonesia menyimpulkan bahwa militer Indonesia di semua tingkat, terlibat penebangan liar (illegal logging) di Papua.
  • 1 Maret 2010 : Aktivis HAM Sebby Sambom dan keluarganya terpaksa melarikan diri setelah menerima ancaman mati dan intimidasi dari agen intelijen Indonesia.
  • 17 Maret 2010 : Pastor Gire Kindeman ditembak mati oleh aparat polisi di Tingginambut, Puncak Jaya. Malam harinya aparat mengepung rumah pertemuan adat. Semua orang yang tidur di dalam rumah tersebut ditangkap dan disiksa dengan bayonet. 13 orang tersebut akhirnya tewas.
  • 22 Maret 2010 : Rumah Enditi Tabuni ditembaki secara beruntun oleh aparat militer. Kejadian ini menyebabkan luka parah di kaki Enditi.
  • 22 Maret 2010 : Polisi menangkap 15 partisipan aksi protes terkait kunjungan Barrack Obama ke Indonesia. Para organiser sudah mendapat izin untuk melakukan demonstrasi tapi polisi beralasan isu demonstrasi akan berbeda karena kunjungan Obama sudah tertunda.
  • 23 Maret 2010 : TNI mengumumkan rencana untuk mengirim lagi 4 batalyon (sekitar 4000 pasukan) ke Papua.
  • 6 April 2010 : Komnas HAM mengunjungi penjara Abepura dan menuntut penggantian Kepala Penjara, Ayorbaba. Pihak Komnas HAM menjelaskan ada 20 peristiwa pelanggaran HAM dalam 2 tahun sejak Ayorbaba menjadi kepala.
  • 7 April 2010 : Koran ‘Biak News’ melaporkan bahwa BIN, Kopassus dan Korem (Komando Regional Militer) sedang mencoba membentuk sebuah organisasi masyarakat untuk dipersiapakan menjadi dewan adat Biak Timur, meski dewan adat Biak yang dibentuk oleh masyarakat sendiri, sudah ada.
  • 16 April 2010 : 25 warga Kwamki Lama ditahan dalam sweeping setelah seorang laki-laki terluka terkena anak panah.
  • 22 April 2010 : Brimob dan Dalmas menyerang demonstrasi di Manokwari. 20 dari 700 partisipan tertangkap.
  • 17 Mei 2010 : TNI menyerang kamp yang diduga milik Organisasi Papua Merdeka di dekat desa Goburuk, Puncak Jaya. Satu orang dibunuh dalam peristiwa tersebut.
  • 26 Mei 2010 : Dua wartawan Perancis diusir dari Papua setelah merekam demonstrasi damai di Jayapura.
  • 4 Juni 2010 : Sebuah demonstrasi yang diorganisir Dewan Adat Papua untuk membahas soal kekerasan dan konsumsi alkohol, dibatalkan akibat aksi penghadangan polisi. Sekitar 50 Polisi menghalang-halangi para peserta aksi menuju tempat aksi demonstrasi.
  • 11 Juni 2010 : Brimob melakukan sweeping segala rumah di jalan Ilu ke Mulia, dan menangkap warga yang tidak memiliki identitas yang sah. Ini merupakan bagian dari penyisiran lebih luas di Kabupaten Puncak Jaya yang sudah memaksa ribuan orang lari menyembunyikan diri di hutan akibat ketakutan. Dilaporkan juga bahwa warga terpaksa kerja untuk militer atau membabat kebunnya untuk menjadi tempat pendaratan helikopter. 
  • 11 Juli 2010 : Sebuah kerusuhan pecah di penjara Abepura setelah sipir memukul seorang napi dan mencuri uangnya.
  • 30 Juli 2010 : Setelah menghilang 2 hari, jenazah Ardiansyah Matra’is, wartawan dan aktivis HAM, ditemukan di sungai di Merauke. Polisi mengklaim korban bunuh diri, tapi ditemukan 2 tulang rusuk yang pecah sebagai bukti adanya tindak kekerasan. Beberapa wartawan di daerah Merauke mendapat SMS ancaman selama beberapa minggu sebelum kejadian ini, yang diyakini ada hubungannya dengan proyek pertanian raksasa MIFEE.
  • 4 Agustus 2010 : Al Jazeera menyiarkan film tentang Yawan Wayeni, yang tewas dibunuh militer satu tahun lalu. Aparat menghinanya dengan wacana rasis sesaat sebelum Yawan tewas karena lukaparah.
  • 6 Agustus 2010 : LSM Cordaid dari Belanda dilarang melakukan program di Papua.
  • 25 Agustus 2010 : Kantor Dewan Adat Papua di Hubula, dekat Wamena, terbakar hanya beberapa hari sebelum acara pembukaan.
  • 22 Septenber 2010 : Dua aktivis KNPB Wamena ditahan polisi saat sedang menyebarkan pamflet sosialisasi aksi massa hari berikutnya.
  • 5 Oktober 2010 : Tahanan politik Papua, Filep Karma memulai aksi mogok makan sebagai protes atas buruknya pelayanan kesehatan yang diberikan kepada tahanan politik lainnya Fery Pakage yang cacat fisik dan buta karena penyiksaan sipir penjara Abepura.
  • 18 Oktober 2010 : Sebuah video yang menunjukkan rekaman penyiksaan dan interogasi dua orang oleh TNI, tersebar di internet.
  • 5 November 2010 : Beberapa website LSM dan organisasi solidaritas yang memajang video penyiksaan diserang secara online. Akibatnya website tersebut tidak bisa diakses selama beberapa hari.
  • 9 November 2010 : Beberapa dokumen rahasia Kopassus bocor. Di dalamnya tercantum ‘daftar musuh’ termasuk Pastor Kepala Gereja Baptis di Papua. Ada juga program untuk pengintaian, infiltrasi, dan pengacuan organisasi-organisasi di Papua. 
  • 2 Desember 2010 : Asli Wenda dan Elius Tabuni ditembak di Desa Bolakme, Wamena. Seluruh warga di desa-desa sekitarnya kemudian lari menyelamatkan diri ke hutan.
  • 4 Desember 2010 : Aktivis HAM Sebby Sambon ditangkap di Jayapura.
  • 14 Desember 2010 : Enam mahasiswa ditangkap di acara pengibaran bendera Bintang Kejora di Manokwari, bersama pengacara yang ingin memantau aksi.

The bad news is; time flies… 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, apa kalian yakin deretan kasus diatas tak terulang? Atau bahkan, lebih parah?

Lalu apa yang sebenarnya dilakukan Indonesia? Hingga sekarang, tragedi di West Papua terus-menerus terjadi. Apakah kematian segelintir dari mereka itu tak ada artinya? Apakah Indonesia ini mengadopsi pemikiran Joseph Vissarionovich Stalin yang mewajarkan kematian dari banyak orang agar itu terlihat sebagai statistik semata? Mengapa Negara kepulauan terbesar ini selalu gagal belajar dari masa lalu? Entahlah, tanyakan pada mereka. 

Terakhir, jika menurut Jeannette Walls hidup adalah drama yang dipenuhi tragedi dan komedi, yang mengajak kita untuk mempelajari tiap episode di dalam komik agar menemukan makna yang dicari. Maka menurutku — hidup lebih rumit dari itu — makna hidup dewasa ini makin terkikis. Oleh karena kita sendiri. Manusia. 

Cukup kiranya. Silakan lempar pendapat dan lain sebagainya. Eh, satu lagi… aku ingin mengutip Imre Kertesz dalam bukunya yang berjudul “Liquidation”. tertulis di sana… “You just sit there and tolerate it, the same way everything in this country is tolerated. Every deception, every lie, every bullet in the brains. Just as you are already tolerating bullets in the brains that will be implemented only after the bullet is put in your brains.”

Baiklah, selesai! Terima kasih.

Bumi, Juli 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s