JANGGAL : Bagian I


“Biarkan dia tetap jadi misteri” ujarnya selepas gelap jatuh, “Apa yang kamu harapkan? Cinta? Aku lebih tertarik dengan permainan papan.” belum sempat aku terbata, ia kembali berkata, “Kamu tidak bermain cinta, kamu bermain ego, kamu terlalu banyak menyaksikan happy endings. Cobalah sesekali main ke tempatku, di mana cerita berakhir dengan suara ledakan dan lubang di kepala.” lalu ia kembali pergi, menembus gelap jiwa yang tergelepak oleh dunia yang mencampakannya. Aku baru sadar, ketika mulai terjaga, ternyata itu semua hanya mimpi. Namun, siapa perempuan bertatapan datar dengan wajah pucat tanpa ekspresi di mimpiku itu? 
Hari-hariku berubah, aku tak henti memikirkan perempuan itu. Andai saja perempuan itu ada di dunia nyata, ‘kan ku temui tanpa ragu. Sungguh aneh malam itu, kamarku berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya, ketika hujan turun, tetes demi tetes air mengalir di dinding. Kadang, burung gagak dekat kebun itu mendekati jendelaku, mengetukan paruhnya ke kaca dan bernyanyi.

Esok adalah hari di mana Marsha tewas dengan sebelas tusukan belati ditubuhnya, satu tahun yang lalu. Malam ketika Marsha terbunuh, adalah malam yang menghadirkan sejuta penyesalan bagiku. Aku sudah dengan sengaja membiarkannya menunggu lebih lama di persimpangan jalan yang sepi, sebelum akhirnya ia dihampiri beberapa lelaki yang kemudian membunuhnya.

Marsha, perempuan biasa dengan cara berpikir yang unik. Bahkan aku tahu, ia tak akan menyesali kematiannya sendiri. Namun, ia lebih mencintai tumpukan bukunya daripada aku. Ah tentu, aku saja sering membuatnya kecewa. Sesungguhnya, aku sudah mampu melupakan Marsha dan memaafkan diriku sendiri. Namun karena esok adalah hari di mana ia terbunuh, itu membuatku mendadak teringat kembali. Aku tak bisa lagi berbuat apa pun, bahkan keluarga Marsha sangat membenciku setelah kejadian itu. 

Kini malam kembali datang, menggantikan terang yang lelah seharian. Aku terbaring di kamarku, tepat pukul 23:00, aku masih belum mengantuk karena aku mesti mengerjakan beberapa tugas yang menagih diselesaikan. Hujan kembali turun, suhu di kamarku menjadi lebih dingin. Jendela mendecit tertiup angin namun aku tak menghiraukannya, sebelum kemudian angin menjadi lebih besar dan meniup beberapa kertas di ruangan, aku bergegas menutup jendela. Sialan, mungkin adikku telah bermain di kamarku dan lupa menutup kembali jendela. Lalu aku kembali mengerjakan tugasku. 

Beberapa menit kemudian, ponselku berdering, itu telepon masuk dari Mama. Aku bingung, mengapa Mama meneleponku? Padahal ia ada dikamarnya. Aku tetap mengangkat telepon, belum sempat aku bertanya, Mama langsung memotong dan berkata “Kayaknya kita gak bakal pulang, adek sakit, kita masih di rumah kakek.” dan tiba-tiba ponselku mati karena lowbatt. Seketika itu juga aku terkejut, melamum beberapa saat dan mulai cemas tak karuan. Lalu siapa orang yang berada di dapur pada pukul 20:00 ketika aku baru saja tiba di rumah?

Karena penasaran, aku memutuskan untuk melihat situasi di ruangan tengah dan dapur, semua baik-baik saja. Kamar Mama pun terkunci, sialannya itu aku baru ingat bahwa keluargaku memang pergi ke rumah Kakek tadi pagi.  Ah sudahlah, mungkin tadi hanya ilusi yang hadir karena aku kelelahan. 

Aku kembali masuk kamarku. Suasana yang asalnya berisik karena suara hujan, kini sudah menjadi sunyi berbarengan dengan redanya hujan. Namun justru aku semakin merasa cemas, tak ada sedikitpun suara kecuali suara ketikan jariku terhadap keyboard. Namun tiba-tiba, laptopku mati, padahal listrik menyala dan tak ada masalah sebelumnya. Aku benar-benar kesal, bahkan aku belum sempat menyimpan pekerjaanku. Aku beberapa kali memeriksa laptop itu, tetap tidak menyala. Lalu aku menutup laptopku dengan amarah, aku berbaring di ranjang sekarang.

Aku mulai mengantuk dan melepaskan kaca mataku, pengelihatanku mulai samar. Namun kemudian semuanya berubah menjadi situasi yang tidak aku inginkan…
Tiba-tiba saja ada sosok seorang perempuan tepat dipojok kamarku, ia menatap ke arah jendela, aku bahkan tak bisa menggerakan badanku. Perempuan itu terlihat seperti… “Marsha?!!!”

Ia menggunakan jaket hitam dan celana jeans yang biasa Marsha kenakan dulu. Aku tak bisa menemukan kaca mataku, aku masih tidak bisa melihat semua dengan jelas namun aku yakin bahwa itu adalah Marsha. 

Aku semakin terkejut ketika ia menoleh kepadaku. Tiba-tiba saja pengelihatanku menjadi jelas, aku melihat dengan jelas bahwa itu memang benar-benar Marsha. Ia menatapku tanpa ekspresi, tatapannya begitu kosong seperti langit yang gelap tanpa jawaban. Aku masih kebingungan diantara mengira ini hanya ilusi ataukah kenyataan.

Ia masih menatapku, lalu kemudian darah demi darah keluar dari tubuhnya. Tiba-tiba saja ia berekspresi seolah ia ketakutan, menangis, dan jaket yang ia kenakan tiba-tiba terobek dengan sendirinya. Ia terus berteriak, meminta tolong dan menangis sangat kencang, badanku seolah menjadi kaku dan tak dapat bergerak sedikitpun. Lalu ia terjatuh, tergelepak begitu saja, darah mengalir keluar dari tubuhnya. Dengan cepat aku menutup mataku untuk beberapa saat, dan ketika aku kembali mebuka mataku, ia sudah tidak ada dipojok kamarku itu. Jendela kembali berdecit dan udara dingin kembali masuk. Aku tak peduli jendela itu, aku tak peduli udara dingin itu, aku ingin segera tertidur.

Aku mengira semua kejadian buruk itu sudah berakhir, mungkin itu hanya ilusiku saja. Aku menarik nafas dalam-dalam, badanku sudah bisa digerakan, aku mengambil selimut dan berbaring ke arah kiri. Setelah semua kejadian tadi, aku justru tertawa, ternyata sehebat itu hasil kerja otak. 
Namun… ketika aku membalikan badan ke arah kanan untuk mengambil ponselku, Marsha kembali berdiri di pojok itu. 

Seketika itu aku lagi-lagi terkejut dan bergegas membalikan badan kembali ke kiri, dan ternyata, Marsha dengan posisi jongkok ada dihadapanku, didekat jendela, dengan ekspresi marah dan mulutnya terbuka lebar karena sobek. Sontak aku berteriak, dan akhirnya, aku tak sadarkan diri.

Aku terbangun dengan keadaan lemas, terbaring di sebuah ranjang dan berada di sebuah ruangan yang tampak asing. Ternyata aku ada di sebuah kamar rumah sakit. Aku semakin terkejut ketika menyadari bahwa tangan dan kakiku diikat. 

Lalu dua orang suster dan seorang dokter datang menghampiriku, aku ketakutan, berkeringat, “Tenang, coba tenang.” ucap salah seorang suster itu. Aku hanya berteriak-teriak tak jelas, aku tak mampu mengontrol diriku sendiri.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s