SUICIDE : Ironi dan Stigma.

“Everything…affects everything”

Ada satu waktu, ketika seorang anak muda bernama Tom menjadi objek perbincangan orang sekitarnya. Mereka berpikir bahwa Tom adalah seorang pecundang yang egois. Mereka mengatakan itu bukan tanpa alasan — Tom adalah pemuda pemurung — dia tak begitu suka berbaur dengan orang-orang sekitar, dia tak acuh dengan semua yang orang lain katakan tentangnya, dia juga seorang pecandu obat-obatan yang seringkali berurusan dengan Polisi, dan dia pernah beberapa kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya walau usahanya selalu gagal. Bisa disimpulkan, bahwa Tom adalah seorang yang berusaha keluar dari lingkaran, yang lelah dengan realitas, lelah dengan omong kosong orang-orang.

Tom menghabiskan waktunya dengan diam, membaca buku, tidur. Dia beranggapan bahwa melawan kenyataan adalah dengan cara diam, menolak dunia di depan mata dan keluar dari semua kemunafikan.

Sebelum akhirnya, Tom bertemu seorang perempuan seusianya. Dia adalah Audrey. Tom berpikir bahwa hanya Audrey yang dapat memahami situasi dan kondisinya, Audrey menerima semua ‘keanehan’ yang ada dalam diri Tom dengan berusaha menempatkan dirinya di posisi yang sama dengan Tom. Walau sebenarnya, Audrey memiliki kenyataan yang lebih baik ketimbang Tom. Audrey hidup bersama keluarga yang utuh, yang mencintai dirinya dengan murni, dia sama sekali tak pernah mengeluh tentang kehidupannya.

“Tom, mungkin aku selalu mengerti semua keinginanmu. Caramu berpikir, memandang hal-hal. Tapi terkadang, selalu muncul satu pertanyaan yang sebenarnya canggung untuk kutanyakan.” Ucap Audrey, mereka sedang menghabiskan malam dengan duduk di atap dan berbincang.

“Jika ada yang ingin kamu katakan, katakanlah. Aku menerima mereka yang merendahkanku, aku menerima semua yang diucapkan orang-orang, begitu pun kamu, katakanlah.” Jawab Tom.

“Tidak, tak perlu dipikirkan. Itu hanya pertanyaan yang muncul di otakku dengan samar.” Audrey berkata seperti itu dengan tersenyum kecil, seperti menunjukan bahwa ia sebenarnya ragu.

“Baiklah.” Balas Tom selagi ia menghisap rokoknya.

Kenyataannya adalah, Audrey kadang tak paham dengan apa yang sebenarnya Tom inginkan. Kadang ia berpura-pura mengerti karena hanya ingin suasana kembali dingin. Tom begitu sering melamun, ia jarang sekali bercerita tentang dirinya pada siapa pun. Dan malam itu, akan merubah segalanya. Audrey akan lebih mengerti mengapa selama ini ia menganggap Tom adalah seorang eskapis.

“Apa yang kamu inginkan dalam hidup, Tom?” Tanya Audrey.

“Tak ada.” Jawab Tom dengan singkat.

Audrey semakin kebingungan dan akhirnya kembali bertanya, “Ayolah, pasti ada sesuatu yang kamu inginkan dalam hidup ini.” Ucapnya.

Tom menghela nafas dan memandang ke arah langit, “Kamu berkata tentang tujuan? Apa itu?Mati? Ya, aku hanya hidup menanti mati. Cukup jelaskah untukmu?”

Audrey tersenyum sebelum bekata dengan terbata-bata, “Mati? Aku mungkin tak paham. Tapi aku akan coba memahaminya. Tapi, Tom, mengapa?”

“Aku menghabiskan waktu setiap hari berbaring di tempat tidur. Lalu aku membuang waktu mondar-mandir. Aku membuang-buang waktu dengan diam dan tak mengatakan apa-apa, namun aku akan katakan sekarang. Karena aku mempercayaimu.” Kata Tom, dia menoleh pada Audrey dengan tatapan resah. “Apa yang kamu rasakan ketika realitasmu selalu diserang oleh pikiranmu sendiri? Oleh orang-orang yang mengatakan bahwa kamu adalah seorang pecundang, egois dan bodoh karena keinginan untuk mati. Jika kamu bisa merasakannya, maka seperti itulah rasanya. Rumit. Hidup tak pernah terlihat begitu mudah bagikku. Orang-orang berkata seperti itu karena mereka beranggapan bahwa aku tak berpikir panjang, aku hanya ingin melepaskan beban kehidupan, aku pecundang karena tak mampu melawan kenyataan. Dan, akan kuberitahu apa itu kenyataan… Mereka berpikir bahwa aku tak mau terlibat dengan kesulitan yang kualami, maka aku ingin mati. Itu kesalahan besar. Aku berjuang sangat keras, aku tak ingin mati jika ternyata kehidupanku ini baik-baik saja, namun, aku selalu dikalahkan oleh usaha-usahaku untuk menjadi lebih baik, bukan hanya fisikku yang merasa kelelahan.” Kata Tom tanpa nada menyesal sedikit pun. 

“Karena saat kamu tertidur, mungkin kamu akan bermimpi buruk. Tapi, aku, mimpi buruk itu hadir saat aku terbangun. Itulah alasannya.” tambahnya.
Akhirnya Audrey paham dengan alasan mengapa Tom memimpikan hidupnya berakhir. Audrey menunduk dan menarik nafas dalam-dalam beberapa kali. Rupanya semesta membiru malam itu, ditandai dengan hujan deras yang tiba-tiba membasahi dunia yang kering dan menyedihkan, sedikit aneh, karena malam itu penuh bintang dan tak ada awan gelap sebelumnya. 

Lalu mereka berdua bergegas masuk ke dalam ruangan. Sebelum akhirnya Audrey pamit untuk pulang saat hujan reda.

Malam itu memberikan penjelasan yang memilukan bagi Audrey. Bagi Tom, penjelasan itu adalah kenyataan yang dialaminya. Tapi karena penjelasan Tom malam itu, Audrey jadi berpikir bahwa ada yang salah dalam diri Tom — dia malah menjadi orang yang sama dengan mereka — yang mengatakan bahwa Tom adalah seorang pecundang dan tak mampu melawan kenyataan. Audrey mengatakan itu dengan amarah. Jawabannya sudah jelas, Tom akan tetap yakin dengan apa yang dia inginkan dalam hidup, yaitu kematian. Hanya itu. 

Akhirnya Tom dan Audrey menjauhi satu sama lain, waktu ke waktu, jarak mereka dekat tapi jiwa mereka saling menjauh. Sesekali Audrey tak sengaja melewati kediaman Tom saat perjalanan menuju rumah temannya. Tom kadang terlihat sedang duduk di balkon dengan kopi disampingnya. Tapi mereka bukan mereka yang dulu. Meski mereka bertemu, mereka sama sekali tak saling bertanya, mereka tak saling menyapa, bahkan Audrey seperti enggan memandang Tom. Itu membuat Tom kembali berpikir bahwa, semua orang diluar sana adalah sama, pada akhirnya mereka hanya akan menganggap ia seorang pecundang. Bahkan orang yang sebelumnya ia percaya, juga mungkin bosan dengan semua keluh kesah yang tak beraturan darinya. Tom tak ingin lagi menyentuh dunia luar, ia tak ingin lagi menyakiti orang lain dengan penderitaannya.

Dan… Tepat 3 bulan setelah malam itu. Semua orang disekitar berkumpul di depan tempat kediaman Tom. Ada beberapa Polisi di sana, juga ambulance dan jurnalis. Audrey tak sengaja melewati tempat itu, ia memandang dari kejauhan, dan sedikit terkejut karena kerumunan itu berada di depan rumah Tom. Ia bergegas mendekati kerumunan, lalu bertanya “Apa yang telah terjadi disini?” 

Salah seorang nenek menjawabnya, “Pemuda itu, si pemurung. Kau mengenalinya?  Dia baru saja ditemukan mati tergantung oleh ibunya yang baru kembali dari Canada.” 

Audrey terkejut, dia merasakan penyesalan yang dalam, seketika itu juga pikirannya jadi buyar, ia merasakan sebuah kehidupan yang datar menusuknya lewat kenyataan. Beberapa hari kemudian,  tubuh Tom dengan jiwa yang sudah pergi itu dikuburkan untuk selamanya. Audrey bahkan hanya memandangi proses pemakanan dari jauh, ia seolah terjatuh ke dalam dunia hitam dengan segala pertanyaan dan penyesalan yang menghisap jiwanya.

Tak diragukan, banyak orang yang mengerti mengapa akhirnya Tom berhasil mengakhiri hidupnya. Sebagian dari mereka merasa menyesal karena telah menjauhi Tom dan menyebutnya seorang pecundang yang egois, termasuk Audrey. Ya, mereka hanya benar-benar peduli ketika seseorang itu sudah pergi. Begitulah kenyataannya. Tom adalah seorang dengan tingkat depresi yang berat, walau dirinya tak pernah mengatakan tentang itu kepada orang lain, ia malah menutupinya karena tak ingin dianggap sebagai orang yang mencari perhatian. Namun, orang-orang disekitarnya tetap berkata ia selalu mencari perhatian dengan cara menjadi seorang pemurung dan terlihat menyedihkan. Tidak. Itu karena mereka tak tahu apa yang dirasakan oleh Tom. Orang-orang hanya bisa menghakimi, menilai dari satu sisi tanpa sempat membuka dirinya untuk peduli.

Memang, kesakitan mental terlihat lebih dramatis daripada sakit fisik, tetapi lebih umum dan juga lebih sulit untuk dimengerti. Orang-orang cenderung mencoba menyembunyikan penyakit mentalnya karena tak ingin dianggap seperti Tom yang mereka sebut pencari perhatian. Namun, menyembunyikan penyakit mental hanya akan meningkatkan beban. 

Betul, lebih mudah untuk mengatakan “Gigiku sakit” daripada “Hatiku patah.” Itulah yang dialami Tom. Orang-orang mengucilkannya karena ia berkata ingin mati, itu karena dulu ia belum mati. Sekarang, apa yang Tom ucapkan sudah menjadi nyata, dan orang-orang itu akhirnya menyesal.

Tak ada perubahan di sekitar Hanson street-Glasgow setelah Tom pergi. Tetapi, karena Tom, akhirnya orang-orang itu mengerti bahwa seseorang yang lelah dengan kehidupannya bukanlah seorang pecundang yang egois. Dan sudah seharusnya diberikan perhatian. 

—————

Adalah sebuah tragedi menyedihkan ketika seorang melakukan bunuh diri, tapi sebelum kalian menghakimi orang yang menjadi korban dari rasa lelah akan penyakit mentalnya, try to put yourself in their shoes, or go the fuck to bed. Cobalah berempati dengan mereka dan melihat bahwa mereka telah menganggap dirinya sendiri sebagai sumber masalah dan kesalahan. Sebagai manusia, sulit untuk tidak saling menyalahkan. Tetapi, mengertilah bahwa bunuh diri bukan salah siapa pun. Bunuh diri adalah pilihan terakhir bagi banyak orang yang merasa mereka tidak memiliki jalan alternatif lain. Mereka berada dalam keadaan sakit yang banyak dari kita tidak akan pernah mengerti. Mereka tidak bertindak egois, mereka bertindak selflessly.

Sekali lagi. Bunuh diri tidak terjadi pada orang-orang egois, mereka hanya lelah dengan realitas yang menggores mentalnya terus-menerus. Kita tidak bisa berkata seolah seseorang itu tidak memiliki kontrol atas egonya. Egois itu ketika kita berkata pada mereka “Dont worry” atau “berbahagia sajalah” atau “biarkan semua mengalir apa adanya, berdoalah.”, complete bullshit. Karena ketika kamu mengatakan hal-hal tersebut, kamu tidak memikirkan orang yang mendengar dan menerima perkataanmu, kamu memikirkan diri sendiri. Itulah egois. Kamu ingin mereka untuk menjadi lebih baik tapi tidak berpikir tentang betapa sulitnya hal itu untuk mereka. 

Kalian beruntung karena tidak mengerti. Beruntung untuk dapat menganggap ini sebagai sikap egois, beruntung untuk tidak berjuang dan merasakan bagaimana rasanya jadi sumber kesalahan yang kalian tempatkan, kalian beruntung.

Whats more selfish? committing suicide or forcing someone to stay in a world where they are so unhappy?

Bumi – 18, Oct, 2016.

Advertisements

One thought on “SUICIDE : Ironi dan Stigma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s