NOTHING EVER HAPPENS

Suatu hari di bulan Desember yang selalu terasa lama, kota Denver yang membeku dengan -9° di sebuah acara keluarga yang membuat suasana sedikit hangat — timbul sejuta pertanyaan dalam pikiran anggota keluarga lainnya — itu hadir dari kesimpulan yang coba dijelaskan oleh seorang yang menolak segala pemikiran keluarganya, segala bentuk kehidupan. Orang itu adalah Jude, anak terakhir dari 2 bersaudara. Usianya kini 18 tahun, namun cara ia berpikir dan berbuat kadang lebih dewasa dari yang lain.
   

   Keluarga Jude bukanlah keluarga yang mewah, mereka sederhana dengan segala masalahnya. Dari masalah-masalah itulah anggota keluarga dan sebagian teman Jude selalu memberikan motivasi agar ia tak terlalu jatuh.

Harus bertahan,

Harus kuat,

Harus setia pada diri sendiri,

Harus menemukan jati diri,

Harus menerima kenyataan,

Harus selalu bahagia,

Harus selalu positif,

Harus selalu menemukan jalan keluar,

Dan lagi,

Lagi,

Dan segala keharusan lain lagi.
Sebuah perbincangan tentang kondisi ekonomi keluarga dan berakhir dengan motivasi yang diawali kata “Harus” dan “Selalu” itulah yang Jude sayangkan.

“Pertanyaanku adalah simple, kenapa HARUS dan SELALU? Berikan jawaban, apa pun, aku akan menerimanya dengan baik tanpa berkata Bye Felicia.” ucap Jude sembari mengocek tehnya.
   

   Setelah menghela nafas, Jude kembali berkata “Karena di sini aku akan menentang segala keharusan, segala sesuatu yang terus memaksaku untuk selalu menjadi baik-baik saja. Karena nyatanya, itu semua tak sejalan denganku. Mungkin ini hanyalah aku, jadi tak perlu dimengerti orang lain, tapi aku rasa ini semua tetap harus dikatakan; setidaknya, kalian akan tahu. Ini adalah sebuah serangan terhadap pikiranku tiap malam, tiap kali terbangun setelah tidur, siang hingga sore dan kembali bertemu malam, juga karenanya aku tetap terjaga hingga larut. Hanya untuk duduk dan diam, lihat? Apakah aku mulai gila? Ini hanyalah tentang aku — tak ada satu pun orang yang menyeretku menuju sudut ini — jadi, aku tak sedikitpun memiliki alasan untuk menyalahkan orang lain.” 

“Jude, memang hidup tak pernah adil. Tapi bersabarlah.” kata Ayah Jude selagi ia mengambil makan malam. Sementara Ibunya hanya terdiam.

“Baiklah, aku akan mulai untuk mengatakam segala keharusan yang bertolak-belakang denganku.” balas Jude.
   

   “Harus bertahan, untuk apa? Bertahan dari apa? Di mana? Apa yang harus aku lakukan lagi setelah mampu bertahan? Apakah aku sama sekali tidak pernah coba untuk bertahan? Aku kembali ingatkan, ini hanyalah tentang aku. Entahlah, aku tak tahu mengapa aku harus bertahan. Semua alasan tampak seperti kantong plastik yang tertiup angin, lalu berakhir di tengah lautan, tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa tahu di mana dan kapan, bahkan tak tahu jalan untuk kembali.” Jude mengatakan itu dengan senyuman. 

Kakak Jude yang bernama Carley tertawa kecil lalu bertanya, “Mengapa kau berkata tentang kantong plastik?”

“Jawabanku ada di alasan mengapa kau bertanya. Karena seperti kantong plastik, dibuat hanya untuk dibuang saat ada sesuatu yang baru dan lebih baik. Itulah hidupku, aku tak lebih dari kantong plastik yang tak berguna, yang tak memiliki arti, yang menjauhi segala makna karena semua mencuat di tengah pertanyaan “Mengapa aku ada di sini?”, jelaskah?” jawab Jude.
   

   “Harus kuat, untuk apa? Apa yang akan kudapat setelah menguatkan diri? Aku tidak sampai ke titik ini hanya dengan menolak untuk mengindahkan segala hal, aku di sini karena semua hal itu sendiri. Belum selesai, tentu aku seringkali berusaha untuk kuat — dengan cara melakukan sesuatu yang kusenangi, tapi setelah itu? Aku sadar, bahwa aku melakukan itu semua hanya untuk menyembunyikan rasa sakit dan kebingungan yang di kemudian hari menagih janji untuk sebuah kepastian. Tidak, aku tidak akan lagi berkeinginan untuk melakukan itu. Karena kenyataannya; aku hanya bisa berlari, tanpa bisa selalu bersembunyi. Aku sadar akan hal itu. Tapi lebih banyak hal yang tidak aku ketahui, mungkin akan segera kutemukan, atau mungkin, aku tidak akan pernah tahu. Namun itu sama sekali bukanlah masalah, bagiku, semua hal sudah memudar serta mengambang tanpa paksaan. Tak ada lagi makna yang aku dapat.” tambah Jude.
   

Jude terus mengatakan keluhannya, “Harus setia pada diri sendiri, haruskah aku? Kemunafikan macam apa itu? Aku bukanlah diriku lagi, jauh dari diri sendiri, jauh dari sentuhan-sentuhan yang 10 tahun lalu aku lakukan. Aku selalu canggung ketika aku menemukan bahwa aku harus setia pada diri sendiri. Membuatku ingin mengeluarkan banyak pertanyaan — sangat banyak — diri sendiri yang mana? Itulah pertanyaan mendasarnya. Jawaban dari pertanyaan seperti itu adalah; aku tak selalu bisa mengatasi semua hal yang terjadi di hidupku, bahkan beberapa hal itu berakhir sebelum aku menyadarinya. Namun kadang aku berhasil mengatasi beberapa hal, lalu hal-hal lain kembali datang dan memintaku untuk mengatasinya, silih-berganti, bersamaan. Membuatku bingung, lelah dan bertanya; “Mengapa harus seperti ini?”… dan itulah yang membuatku kehilangan diri sendiri jauh sebelum aku mampu menggenggamnya.”

   “Jude, kau tak perlu merasa seperti itu.” Carley menoleh ke arahnya.
   

Jude kembali menambahkan ucapannya, “Harus menemukan jati diri, bagaimana kejelasan untuk ini? Aku bahkan tidak tahu apa itu jati diri. Apakah itu sebuah kepercayaan diri berlebih yang berkata A namun jauh di dalam dirinya, ialah B, atau bahkan C? Aku tak ingin menjadi naif, aku tahu di luar sana ada orang yang berhasil menemukan dirinya sendiri di tengah bungkus roti bernama masyarakat. Maka dengan itu, aku sangat setuju dengan apa yang dikatakan William Blake; ada orang yang terlahir untuk merasakan kesenangan yang manis, ada orang yang terlahir untuk merasakan malam tak berujung.”

Carley menambahkan, “Ya, banyak yang mengamini kata-kata itu, Jim Morrison mengutip kata-kata itu untuk lagunya.” 

“Aku sedang tidak berkata tentang musik. Aku masih tak menemukan jawaban.” jawab Jude.
   

   Jude mengamati satu-per-satu anggota keluarganya, “Harus menerima kenyataan, ini adalah yang paling aneh bagiku. Tapi, biarkan aku bertanya, kenyataan seperti apa yang harus aku terima? Kenyataan bahwa aku dijatuhkan oleh kehidupanku sendiri? Jadi, apakah aku lebih baik duduk dan minum teh? Yang aku ketahui adalah, aku tak selalu bisa menerima kenyataan. Keraguan bahwa dulu aku seringkali berusaha mengalahkan kenyataan adalah benar adanya, dan hasil dari semua itulah yang membuatku sadar — menerima kenyataan adalah tanda bahwa kenyataan itu sendiri telah gagal menemukan maknanya.”

Ayah Jude seolah terlonjak mendengar apa yang dikatakan Jude, “Sudahlah.”
   

Jude mengerutkan sedikit alisnya dan berkata, “Harus selalu bahagia, harus selalu positif, kegilaan macam apa lagi ini? Lebih baik aku menerima kekosongan daripada membuat bualan seperti itu. Atau, lebih mudahnya, aku akan menanggapi keharusan untuk tetap bahagia dan positif dengan salah satu karya si pemikir absurd bernama Albert Camus, The Myth of Sisyphus — lewat buku itu — aku menemukan jawaban bahwa keharusan untuk selalu hidup bahagia dan positif itu sendiri adalah konyol dan penuh kepalsuan, jika ternyata hidup melahirkan lebih banyak sebab untuk duduk dan berpikir, lalu mengapa tetap Bahagia dan Positif itu masih penting?”

“Harus menemukan jalan keluar, di mana? Apa yang harus dikorbankan? Dan, di mana aku? Rupanya, aku lebih seperti di penjara besar dan menolak untuk meloloskan diri.” Tambahnya, Jude terlihat tetap tenang.

   Carley menghela nafas berat, menggaruk pipinya dan berkata, “Kau adalah seorang nihilist yang absurd, Jude.”
   

Jude langsung berdiri, “Lagi, lagi dan lagi? Aku adalah aku hari ini, apa lagi? Aku memutuskan untuk hidup seperti ini, untuk hari ini. Aku tak lagi berkeinginan untuk mencari jalan keluar, karena tak ada jalan keluar. Aku tak lagi berpikir untuk menyelamatkan diri dari segala ketidak-pastian. Seperti bintang mati yang tetap bersinar — kenyataan bahwa aku masih hidup adalah — karena aku telah mati ribuan kali sebagai manusia. Kebahagiaan membunuhku, mengapa? Karena kebahagian adalah kepalsuan!” 

Ayah Jude bertanya, “Mengapa palsu?”

“Aku sebenarnya tidak perlu menjawab itu, tapi aku ingin semua orang tahu alasannya. Dan akan kujawab, adalah uang dan ambisi yang membuat kebahagian menjadi ilusi. Masih kurang jelas? Rokok, kopi, beer, sex, obat-obatan, makanan, perasaan, penghargaan — bukankah lebih banyak orang yang berambisi dan saling berlomba untuk mendapatkan itu semua, lebih banyak, lebih baik dari yang lain? Karena itu, aku katakan, kebahagiaan adalah ilusi yang hadir di cela kepalsuan. Layaknya harapan yang ternyata hanyalah delusi yang diciptakan manusia.” jawab Jude dengan sinis.

   

   Setelah menyesap tehnya, Jude menambahkan “Benar, tak ada hal yang penting. Tapi terkadang sesuatu tetap perlu diceritakan, hanya untuk melepaskan kepastian. Dan di sinilah aku sekarang, berkawan dengan segala pertanyaan yang berlawanan dengan segala keharusan untuk hidup yang lebih baik.” 

Ayah, Ibu dan Carley hanya memandangi Jude dengan mata tanpa ekspresi. Jude berjalan ke arah jendela, memunggungi anggota keluarga lain, memandangi ke balik kaca yang mulai retak dan membeku, “Di akhir hari, satu-satunya pengecualian yang kudapat adalah untuk menghidupi kehidupan tanpa mencari makna. Itulah maknanya.” 

Ia berbalik untuk melihat Ayah, Ibu dan Carley dengan tatapan mendalam. Kemudian Jude melepaskan sweater dan melangkahkan kakinya ke kamar tidur.

   Malam yang dingin di Denver itu mendadak menandai sebuah perubahan di Keluarga Jude, bahwa seorang anak 18 tahun yang sebelumnya tidak begitu senang untuk bicara banyak — kini ia mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam pikirannya.
   Jendela terbuka tertiup angin, udara dingin masuk tanpa halangan, sisi-sisi jendela itu tak lagi berdecit. Semua mulai membeku sedemikian rupa, layaknya Jude yang memutuskan untuk kembali memeluk diam.
Bumi — Des, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s