MENG(A)PA?

“Everything the State says is a lie, and everything it has it has stolen.” – Friedrich Nietzsche

Apakah masih ada yang berkata bahwa kita telah hidup bebas? Setelah yang disebut kemerdekaan diproklamasikan? Satu hal yang perlu dicatat — itu kemerdekaan Negara — bukan kemerdekaan dari setiap individu. Apalagi jika kamu bicara soal Negara ini, Indonesia. Apa yang mau kamu banggakan? Sejarahnya? Baik, mereka bilang jangan sesekali melupakan sejarah. Tapi, apakah mungkin untuk kamu mengimplementasikan kejadian-kejadian di sejarah tersebut hari ini? Kamu bicara soal alamnya? Hmm, alam ini sudah ada jauh sebelum Negara ini berdiri, begitu saja. Lalu apa lagi? Jika kamu terus mengelak, terserah, itu hakmu, tapi apa kamu begitu senang bermain dengan ilusi seperti itu?

Kita harus menyadari bahwa dunia selalu berubah, meski tak ada kebebasan absolut di dunia ini, bukankah kebebasan tersebut hanya akan semakin surut jika kamu menggantungkannya kepada Negara? Karena nyatanya, setiap individu tak membutuhkan Negara atau Pemerintah untuk tetap bertahan hidup. Akuilah tanpa munafik. Kita hanya diperdaya oleh ilusi identitas kita sendiri yang seolah meyakinkan bahwa kita adalah bagian dari sebuah Negara.

Lebih banyak dari hari-hari bebas jauh sebelum manusia-manusia licik melakukan invasi dan saling mendakwa sebuah wilayah adalah milik mereka, itu adalah kesalahan terbesar umat manusia. 

Siklus kepalsuan dari Negara ini melahirkan Pemerintah, dan Pemerintah melahirkan sejuta batas. Yang lebih menyedihkan lagi, lebih banyak dari kita yang menggantungkan diri Pemerintah, masih banyak dari kita yang beranggapan bahwa merekalah yang akan menjaga kita dari kemiskinan, penyakit, kekacauan atau bahkan kematian. Aku tak akan menertawai orang-orang yang masih saja beranggapan seperti itu, aku hanya ingin bertanya, “mengapa?”

Sebuah kontradiksi terhadap sejarah manusia, sehingga mereka membiarkan sesuatu yang nampak sama dengan acara Big Brother tetap ada disudut-sudut kehidupannya. Padahal manusia sudah beranjak dari tiarap hingga berdiri dengan saling mengisi — tanpa siapa yang memerintah — siapa yang diperintah, manusia akan tetap mencari makanan saat ia kelaparan, juga saat ia merasa diawasi oleh manusia lain, ia akan berbalik dan bertanya “Hey, kenapa kau terus mengikutiku?” 

Pertanyaannya, mengapa manusia tidak menanyakan pertanyaan yang sama kepada Pemerintah?

Dan bukan lagi rahasia umum, saat Pemerintah didesak untuk menurunkan harga sembako (misalnya), dan lain sebagainya, mereka akan mengikuti apa yang dituntut para demonstran hanya untuk mencairkan suasana. Hey, bahkan mereka hanya bisa mengikuti apa yang kamu mau saat mereka didesak, bahkan kadang kawan seperjuanganmu harus dihilangkan karena ia mengatakan kebenaran. Mereka sama sekali tak bisa mencegahnya. Setelah itu, apa yang terjadi? Harga-harga bahan kebutuhan akan kembali naik, terjadi kembali protes dan desakan-desakan kemarahan, sebelum akhirnya harga-harga itu turun kembali. Lalu naik kembali. Siklus yang lebih mirip seperti sirkus.

Sejak Negara berdiri, perampasan dan penggusuran tanah mulai dan terus terjadi. Mengapa? Karena Negara membutuhkan tempat baru untuk menanam bibit-bibit kekuasaan dan kekuatan mereka agar semakin kuat, lalu mereka berdalih penggusuran dan perampasan tanah itu untuk kepentingan khalayak atau pembangunan demi kemajuan. Berbagai mainstream media gencar memberitakan kejadian perampasan dan penggusuran tanah tersebut, kemudian saat situasi ditempat kejadian semakin panas, media-media itu berhenti melaporkan (yang memang laporannya tak dapat dipercayai) dan mengangkat isu-isu baru. Kita tak bisa percaya kepada mereka!

Setelah banyak orang benar-benar muak dengan segala kesulitan yang diciptakan pemerintah, mereka akan kembali melakukan protes, terkadang protes itu diwarnai kekacauan besar yang membuat si Pemimpin harus bersedia turun dari jabatannya. Tapi apa? Si Pemimpin lama itu akan diganti oleh Pemimpin baru. Maka benarlah apa yang dikatakan Emma Goldman, bahwa jika voting dapat merubah segalanya, maka itu haruslah ilegal. Kawan, sadarlah, tak ada monster baru yang lebih baik dari monster lama. Kecuali kau bercerita tentang film Shrek.

Ketika Negara/Pemerintah merasakan ancaman, mereka akan melakukan dua hal; memerintahkan aparat untuk mengisi peluru, atau dengan cara yang lebih halus. Tapi kenyataannya, cara yang lebih halus itu ternyata lebih berbahaya. Sama seperti apa yang dikatakan Thomas Jefferson, bahwa perbankan lebih berbahaya daripada tentara yang berdiri. Tapi lupakan Jefferson. Apakah “cara yang lebih halus” yang dilakukan Pemerintah itu? Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, mereka akan menurunkan harga-harga kebutuhan, atau menyediakan lapangan kerja. Mengapa mereka menyediakan lapangan kerja? Agar orang-orang mengurungkan niatnya untuk memberontak dan kembali fokus menjalani kehidupannya dengan harapan masa depan yang lebih baik. Tapi apa itu masa depan? Kamu masih saja beranggapan bahwa itu nyata? Ketika lapangan kerja baru dari lahan-lahan baru yang diratakan adalah justru berasal dari kesengsaraan orang-orang lain yang harus rela tanahnya dirampas. Ketika apa yang kamu kerjakan justru untuk memperkaya atasanmu, untuk mempermudah hidup bosmu, agar atasan atau bosmu itu tidak lari dari pajak. Tapi, bukankah kau harus tetap bayar pajak? Sedangkan upah yang kau dapat hanya cukup untuk menutupi sedikit celah dari keperluanmu?

Terakhir, kita semua berkembang bukan karena patuh dengan apa yang diperintahkan sebuah Negara beserta Pemerintahnya. Kita tak ingin duduk dipantatnya, kita bekerja sama, membangun bebatuan kecil yang akan menjadi sejarah dikemudian hari, karena dengan patuh berarti kita telah membohongi pikiran kita sendiri. Kita merasakan kesengsaraan, itu kenapa kita bergulat melawannya. Kita ada karena berbagi, karena pada dasarnya apa yang kita miliki berarti milik mereka juga. Kita ada karena mendengarkan, bukan hanya didengarkan. Kita ada karena membantu, bukan hanya dibantu. 

Sekali lagi, aku bertanya, “Mengapa kau masih membutuhkannya?”

“Our masters have not heard the people’s voice for generations and it is much, much louder than they care to remember.” – Alan Moore
Bumi – Nov, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s