Aku Lelah, Stigma!

Sore ini tampak sama seperti sore-sore sebelumnya. Hujan selalu membasahi daerah di tempat tinggalku, hampir tiap hari. Rasanya, aku telah berkawan dengan semua tetesan air itu, tidak seperti sebagian besar orang yang mengeluh akan kehadirannya. 

Selepas pagi hingga siang tadi hujan turun, cuaca berbalik menjadi cerah. Walau sedikit telat untuk memulai hari, burung-burung tetap bernyanyi sambil mengepakan sayapnya yang basah di ranting-ranting pohon itu. Sekarang aku hanya duduk di sini, sebuah bukit kecil yang jaraknya sekitar 2 KM dari tempat tinggalku. Aku memang seringkali datang kesini, hanya untuk berdiam dan memandangi sekitar dari atas. 

Entahlah, kadang berdiam diri di sini juga menghandirkan segala pengalaman yang tak baik dibelakang untuk kembali hadir secara tiba-tiba dalam ingatan. Tapi aku tetap bisa duduk atau berbaring di sini sepanjang hari.

Banyak orang yang memanggilku monsters, kadang mereka juga memanggilku zombie. Bukan karena aku senang menghancurkan sesuatu atau memakan sesama manusia. Mereka memanggilku begitu karena, ya, aku adalah seorang lelaki berusia 21 tahun dengan HIV positif. Tidak, aku sama sekali tidak menggunakan obat-obatan, atau bahkan berganti pasangan untuk seks bebas. Penyakit yang kudapat ini adalah berasal dari kedua orangtuaku, ditambah karena aku terus mendapatkan ASI hingga usia 1,5 tahun. Mereka berdua terinveksi AIDS sejak mereka muda. 

Awalnya, aku sama sekali tak mengetahui ini. Namun setelah aku beranjak remaja, aku merasakan sesuatu yang aneh ada didalam diriku. Aku sering jatuh sakit. Aku sering dipaksa untuk menkomsumsi obat yang aku sendiri tak tahu apa gunanya, walau sekarang akhirnya aku tahu bahwa itu adalah obat dengan nama ARV (Antiretroviral) yang berguna untuk membantu ketahanan tubuh seorang yang terinveksi HIV/AIDS. 

Sebelum akhirnya Ayah berkata padaku bahwa ia dan Ibu adalah pasangan dengan AIDS positif. Saat itu usiaku masih 17 tahun, dan ya, aku sangat terkejut untuk mengetahui kenyataan itu di waktu yang kurasa sangat terlambat. “Mengapa aku baru diberitahu saat situasi sedang buruk?”

Karena dulu aku masih sangat kurang informasi tentang apa itu HIV/AIDS, aku masih menyangkanya sebagai penyakit yang sangat berbahaya pembawa sial bagi sekitar, menyebar dengan mudah dan hanya menunggu mati. Kemudian, saat usiaku menginjak 19 tahun. Salah seorang teman di kampus mengajakku untuk pergi ke tempat di mana diadakannya Voluntary Counseling and Testing (VCT), aku tahu bahwa itu adalah sebuah tes untuk mengetahui apakah seseorang terinveksi HIV atau tidak. Tapi untuk apa aku melakukan tes itu? Toh aku sudah tahu aku adalah seorang dengan HIV positif. Kala itu temanku berkata, “Ayok, gak perlu takut jarum suntik! Selesai tes kita akan diberi uang!” katanya sambil memberikan senyum agar aku menerima ajakannya. Dia sama sekali belum mengetahui bahwa keluargaku adalah keluarga dengan HIV/AIDS positif. 

Karena aku hanya mengetahui AIDS yang dimiliki kedua orangtuaku, walau aku sudah lumayan banyak mencari tahu apa itu HIV/AIDS, namun entah mengapa, aku memiliki pikiran aneh yang seolah seperti “mungkin saja ada keajaiban, ternyata aku sudah sembuh” lalu dengan kebodohanku itu akhirnya aku mengiyakan ajakan temanku untuk pergi mengikuti VCT.

Dan seperti yang sudah kuduga, setelah tes dilakukan, satu-per-satu orang yang mengikuti tes disebut namanya dan disuruh masuk sebuah ruangan di mana ada seorang dokter sekaligus relawan yang akan memberitahu hasil tesnya. Namaku disebutkan, aku masuk ke ruangan itu. Sambil menulis sesuatu, dokter itu berkata “Apa kamu sudah tahu bahwa kamu adalah seorang dengan positif HIV?”, aku kebingungan untuk menjawabnya. Aku sudah mengetahui bahwa statusku adalah positif, sama seperti orangtuaku namun aku tetap tak bisa menjawab pertanyaan dokter itu. Akhirnya dokter kembali berkata, “Ya sudah, kamu positif HIV. Saya menyesal mengetahui ini, tapi bukanlah masalah, ini bukan akhir dunia.” Sang dokter terus melanjutkan kata-katanya.

Di sisi lain, temanku tak sengaja mendengar apa yang dikatakan dokter itu, karena memang pintu masuk ke ruangan itu terbuka. Saat aku berbalik badan untuk berdiri dan keluar ruangan, aku melihat raut muka temanku seperti terkejut. Dia sama sekali tak berkedip.

Aku ingat, saat itu aku bertanya, “Apa yang salah?” kepada temanku. Tak lama dia menjawab, “Tak ada yang salah.” setelah itu dia malah bergeser ke kursi lain. Aku mulai berpikir, “Apa salahku?”

Setelah tes berakhir, aku meminta izin kepada seorang dokter di sana untuk ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, aku melihat temanku sedang menalikan tali sepatunya kemudian dia bergegas pergi, tanpa mengajakku, tanpa berkata apapun.

Keesokan harinya, aku pergi ke kampus seperti biasa. Namun rupanya ada sedikit yang berbeda, beberapa orang yang melihatku seolah tak ingin berada dekat-dekat denganku. Bahkan temanku yang paling dekat, saat kutanyakan “Di mana teman yang lain?”, dia menjawabnya dengan “Aku ada urusan” dan langsung berjalan menjauhiku. Aku semakin bingung. Waktu demi waktu berganti, cercaan, umpatan, hingga dijauhi orang-orang telah kudapatkan selama ini. Apa yang salah dengan orang-orang ini? 

Mengapa mereka menjauhiku dengan mudah tanpa mencari tahu lebih apa HIV/AIDS itu. Aku tak akan menularkan penyakit ini hanya dengan memegang tangan mereka, memeluk mereka, atau bahkan dengan mencium mereka. Semua itu salah. Seperti yang tadi kubilang, HIV/AIDS tak akan menular dengan berpegangan tangan atau berpelukan, bahkan dengan berciuman antara bibir dan bibir, sekalipun sedang sariawan atau inveksi gusi hingga berdarah, risiko tertular HIV/AIDS dari berciuman itu masih sangat kecil. 

Waktu kembali berlalu, diusia 20, kondisiku semakin melemah. Sementara aku masih harus dengan rutin menkomsumsi ARV sebanyak 2 x sehari. Kadang aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Apalagi jika rasa gatal diseluruh tubuh ini kembali muncul, rasanya aku ingin menggoreskan benda tajam disekujur tubuh! Namun, saat kondisiku memburuk, tak ada satu pun temanku yang datang untuk sekadar menjenguk.

Ah, lupakan masa lalu! Sekarang usiaku 21 tahun dan, ya, aku masih berada di bukit ini. Aku menamakannya sebagai bukit surga — karena di sini aku benar-benar bisa merasakan kebebasan — walau sendiri, karena di sini tak ada satu pun orang yang bisa mengumpat kepadaku, burung-burung atau tupai itu masih mendekati atau sekadar melewatiku tanpa merasa ketakutan. Namun sekarang, aku kembali merasakan tubuhku sangat lemah. Aku harus gemetar untuk berdiri. Setelah aku berhasil berdiri, aku mengambil sebuah dahan kecil dari pohon untuk tumpuanku berjalan, karena aku terlalu lemah. 

Aku berencana pulang, ketika menuruni bukit, aku terjatuh, jauh ke bawah. Aku tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Aku terbangun disebuah ruangan, yang kuingat hanyalah aku coba menuruni bukit sebelum akhirnya terjatuh. Ada seseorang yang membuka pintu, itu bibiku. Dia bertanya, “Kamu dari mana saja? Kami semua mengkhawatirkanmu.” 

Aku hanya memandangi bibi dengan tatapan kosong. Aku tak ingin berbicara apa pun kali ini. Karena sebenarnya aku tahu, aku sudah berada di atas bukit itu untuk 2 hari, tanpa makan, tanpa minum. Aku pergi ke bukit itu setelah mengetahui kematian Ayahku karena kecelakaan, hanya berselang beberapa jam, Ibuku bunuh diri dengan meninggalkan surat kecil bertuliskan… 

“Nak, Ibu tahu hidup Ibu sudah tak lama lagi. Ayahmu sudah pergi beberapa jam lalu. Dia masih di Rumah Sakit dan Ibu enggan ke sana. Kenapa? Karena Ibu memilih untuk mengikuti kepergian Ayahmu. Ini hampir 25 tahun Ibu hidup dengan AIDS. Sama sepertimu, Ibu dan Ayah dulu sering menerima hinaan dari masyarakat. Sama percis sepertimu, Nak. Sejauh ini, Ibu dan Ayah sudah berjuang melalui segala macam rasa sakit dan kesulitan hidup ini, Ibu rasa ini adalah waktu yang tepat untuk sebuah kepergian. Ibu sudah cukup bahagia dalam hidup. Maafkan Ibumu, mewakili Ayahmu, maafkan jugalah dia. Maafkan kami yang sudah ikut menyeretmu ke dalam lubang hitam kehidupan ini. Kamu harus selalu kuat, bertahanlah sebisa mungkin. Jangan lupa minum obatmu, minumlah susu agar tubuhmu makin sehat. Mewakili Ayahmu, kami sangat-sangat mencintaimu. Maafkan kami.”

Setelah membaca surat itulah aku memutuskan untuk pergi ke “Bukit Surga”, walau akhirnya aku harus kembali terbaring lemah diranjang dengan kondisi menyedihkan. Aku tak lagi melihat semangat kala sinar matahari di pagi hari masuk melalui cela-cela di jendela. Aku akan segera mengakhiri ini semua.

Meskipun cerpen ini fiksi, dan bukan sengaja ditulis untuk memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap 1 Desember, namun, kurasa, setiap hari adalah hari yang pantas untuk melawan stigma negatif di masyarakat. Kita harus bangun, membangunkan orang lain, kita harus terus belajar, memberikan edukasi kepada yang lain. 

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. AIDS singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome. Sindrom ini berkembang ketika HIV sudah sangat merusak sistem kekebalan tubuh. Menurut UNAIDS, di Indonesia ada sekitar 690 ribu orang pengidap HIV sampai tahun 2015. Dari jumlah tersebut, setengah persennya berusia antara 15 hingga 49 tahun. Wanita usia 15 tahun ke atas yang hidup dengan kondisi HIV sekitar 250 ribu jiwa. Angka kematian akibat AIDS mencapai 35 ribu orang. Dengan demikian terdapat anak-anak yatim piatu akibat kematian orang tua karena AIDS berjumlah 110.000 anak. HIV adalah jenis virus yang rapuh. HIV bisa ditemukan di dalam cairan tubuh dari orang yang terinfeksi (cairan sperma, cairan vagina, cairan anus, darah, dan ASI) Kenali, jangan diam.

#WorldFreeStigma

#JauhiPenyakitnyaBukanOrangnya

#SupportDontPunish 

Bumi – Des, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s